GURU “FAVORIT”

Ketika saya masih duduk belajar di SMA dulu, ada jam mata pelajaran yang menjadi favorit saya, yaitu mata pelajaran PPKn. Namun sayang seribu sayang, mata pelajaran itu hanya ada sekali dalam seminggu. Apakah anda tahu alasan mengapa saya menjadikan jam pelajaran tersebut menjadi jam pelajaran yang saya sukai?

Kalau anda berpendapat bahwa saya suka dengan model pelajaran yang penuh dengan hafalan, itu adalah jawaban yang salah.Kalau anda berpendapat bahwa saya suka dengan materi pelajarannya, maaf ….ternyata itu juga jawaban yang salah.Kalau anda berpendapat bahwa saya suka dengan guru yang mengajar,wah ….itu merupakan jawaban putus asa sepertinya hehehe…. dan merupakan jawaban yang salah juga.

Alasan mengapa saya suka dengan mata pelajaran PPKn ketika SMA dahulu adalah Pertama, karena ketika pelajaran PPKn, kami seolah-olah diberi kebebasan. Ya…kami bisa ijin ke kamar mandi dalam waktu lama, maksudnya…ke kamar mandinya mungkin 5 menit tapi mampir ke kantinnya Bu Yus bisa 25 menit, dan ketika masuk ke kelas dengan rentang waktu yang lama tersebut ternyata jarang atau bahkan belum pernah ada teguran.

Alasan yang Kedua, model pembelajaran yang terjadi adalah model mencatat. Bu guru mencatatkan materi yang disampaikan selama jam pelajaran berlangsung meski terkadang ada beberapa penjelasan sedikit, namun ibu guru tidak banyak menggunakan “panggungnya” alias hanya berdiri di area depan meja guru saja, sehingga saya bisa “istirahat” (sejenak memejamkan mata) dibelakang tanpa ada “gangguan”.

Saya yakin anda juga pasti pernah menemui guru yang mengajar seperti gambaran guru saya diatas. Atau mungkin malah diajar dengan guru yang sama? Wah kalau begitu mungkin kita pernah satu sekolahan hehehe…atau malah anda justru sama dengan sosok guru saya itu? Kalau benarsih maaf menyinggung ya..

Yah…begitulah, gambaran sosok guru “favorit” seperti diatas memang kemungkinan akan banyak kita temui. Di jaman yang serba kritis dan modern seperti saat ini, setiap guru harus selalu dituntut untuk berinovasi, berkreatifitas, dan lebih mengeksplor kemampuan diri supaya pelaksanaan pembelajaran di kelas semakin menarik dan tidak membosankan.

Anda bisa bayangkan, jika ada seorang guru yang mengajar, mulai saat kita masih belajar di SMP atau SMA sampai kita lulus kuliah S1, ketika kita bertemu dengan setiap almamater sekolah kita, dan kita bertanya, bagaimana guru ini mengajarnya? Mereka menjawab, “masih seperti yang dulu”, kan nggak lucu ….

Tetapi ada juga guru yang mau belajar dan mengkoreksi tentang cara atau pola dalam mengajarnya. Sebut saja pak Wid, saya kebetulan berkesempatan diajarnya ketika duduk dibangku kelas 1 di SMA Al-Islam 1 Surakarta. Satu hal yang selalu menjadi ciri khasnya ketika masuk ke kelas adalah selain tegas, beliau juga selalu membawa penggaris kayu satu meteran berwarna coklat di pundaknya. Ketika mengajar, setiap murid harus melihat kedepan tanpa ada yag boleh berbicara, melirik, dan beliau juga tidak akan segan untuk memberikan “peringatan” kepada murid-murid yang melanggar larangannya.

Bisa dibayangkan bagaimana proses pembelajaran berlangsung. Setiap murid duduk tegak seolah mereka prajurit TNI/Polri padahal bukan. Tidak ada suara sedikitpun dari murid-murid, betul-betul hening seolah hanya ada satu penghuni di kelas itu, yaitu pak Wid, padahal hampir 40 anak berada di kelas yang sama dengan pak Wid di saat yang bersamaan. Jangankan bertanya tentang materi pelajaran, ijin kekamar mandi yang jaraknya hanya sekitar 20 meter dari kelas saja tidak ada yang berani. Lebih baik nahan kencing daripada harus ke depan untuk ijin kepada pak Wid, padahal pak Wid sebenarnya mempersilahkan jika kitanya mau ijin ke kamar mandi untuk kencing daripada jadi masalah di dalam kelas. Dan tragisnya lagi, kondisi ini berlangsung selama dua jam pelajaran berturut-turut, masih untung ke potong jam istirahat. Wah….kayak kelas horor.  Pada akhirnya anda bisa bayangkan ketika pelajaran pak Wid selesai, tanda bel pergantian jam pelajaran berbunyi dan pak Wid keluar dari kelas. Yah…anda betul…leher dan badan pada kaku semua, murid-murid berebut lari ke kamar mandi dan kelas kembali pada keadaan normal kembali.

Menginjak kelas dua SMA saya sempat bertanya pada adik kelas yang kebetulan berkesempatan diajar oleh pak Wid pada mata pelajaran yang sama yaitu akuntansi. Ternyata jawaban yang terlontar adalah kondisi yang sama dengan ketika saya di kelas satu dulu. Dan ketika saya di kelas tiga, masih dengan jawaban yang sama, dengan kata lain memang pak Wid cara mengajarnya seperti itu.

Waktu terus berjalan dan akhirnya ketika saya melakukan penelitian untuk tugas akhir pascasarjana saya, saya kembali ke SMA Al-Islam 1 Surakarta untuk mengambil data penelitian dan saya dipertemukan kembali oleh pak Wid di depan gerbang masuk sekolah. Saya bercerita panjang lebar tentang kesibukan mengajar dan aktivitas kuliah saya di pascasarjana hingga akhirnya saya sempatkan bertanya kepada beliau, kalau dulu saya adalah muridnya akan tetapi saat ini saya dan pak Wid adalah rekan sesama guru, “Pak, apa pak Wid masih ngajar dengan model kayak yang dulu seperti terhadap saya?”, pak Wid menjawab, “Wah kalau sekarang saya sudah tidak mengajar seperti dulu, sekarang saya lebih tekankan kepada anak-anak untuk lebih bertanggungjawab dalam hidup!”.

Ada banyak perubahan dalam pola mengajar pak Wid dahulu dengan saat ini sejak beberapa tahun belakangan. Semua dilakukan karena adanya evaluasi dari hasil pembelajaran yang pak Wid lakukan terhadap murid-muridnya. Kesan kaku dan galak yang ada berusaha diubahnya dengan sikap yang lebih bersahaja. Namun saya kurang tahu apakah usaha itu telah berhasil atau belum terhadap hasil pembelajaran untuk saat ini mengingat waktu yang terbatas, harapan saya sih usaha itu berhasil.

Hanya saja satu hal yang perlu diperhatikan adalah adanya upaya evaluatif terhadap proses pembelajaran yang selama ini dilaksanakan. Memposisikan murid sebagai subyek pembelajaran sangatlah penting dari pada memposisikan murid sebagai obyek pembelajaran. Karena dengan memposisikan murid juga sebagai subyek pembelajaran, maka posisi guru juga akan ikut belajar terhadap kondisi dan kebutuhan murid. Dan cobalah anda mengkoreksi pada diri anda sendiri apakah anda termasuk guru “favorit” seperti gambaran guru PKn saya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.