GURU JUGA SEORANG PENGHIBUR

Disuatu hari saya dibuat heran ketika saya sedang menonton sebuah film dengan istri saya, tanpa saya sadari, istri saya ikut menangis ketika tokoh utama dalam film tersebut sedang bersedih. Dilain hari ketika saya melihat saudara menonton sinetron di televisi, mereka ikut marah dan teriak-teriak, ketika seorang pemain dalam sinetron tersebut menganiaya tokoh utamanya. Seolah-olah mereka telah terhipnotis dan ikut masuk menjadi bagian dalam film maupun sinetron tersebut, padahal mereka itu sebenarnya hanya sebagai penonton saja. Kasus semacam ini ternyata tidak dialami oleh beberapa keluarga saya saja, namun banyak juga orang-orang dilingkungan sekitar saya, bahkan sangat mungkin fenomena ini dirasakan juga oleh masyarakat yang lebih luas.

Apakah hanya film atau sinetron yang bisa membuat seseorang begitu terhipnotis? Tentu saja tidak. Ada satu lagi yang saya amati mampu membuat seseorang ikut terhipnotis, yaitu konser-konser musik, apalagi konser tersebut mendatang artis-artis luar negeri. Saya teringat ketika ada grup band Metallica, Guns ‘n Roses ataupun artis-artis Korea ketika tampil di panggung Indonesia dalam beberapa saat seolah Jakarta menjadi bagian dari negara Amerika ataupun Korea.

Apakah menurut anda Boy Band ataupun Girl Band dan artis-artis terkenal lainnya itu melakukan pertunjukan yang asal-asalan? Saya yakin anda akan menjawab tidak. Karena saya yakin betul mereka pun melakukan suatu persiapan yang luar biasa, sebelum melakukan pertunjukan. Tujuannya supaya penonton atau fans puas dengan apa yang mereka tampilkan. Mereka adalah penghibur-penghibur sejati yang mampumengubah panggung menjadi sebuah hiburan paling menyenangkan.

Mungkin anda bertanya apa kaitannya hal ini dengan sosok guru?Andai saja guru-guru kita ini memiliki jiwa penghibur pastinya mereka juga mampu menjadi sosok-sosok yang berpengaruh buat anak didik kita. Tidak perlu guru menjadi artis dengan pakaian gemerlap, anting gantungan kunci, ataupun bedak yang super tebal, namun cukuplah guru-guru kita berperilaku sebagai artis, bukan pada gaya hidup glamornya, akan tetapi sikap profesional seorang artis ketika akan naik panggung.

Saya melihat ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari jiwa penghibur mereka. Khususnya tentang bagaimana ketika mereka tampil di panggung. Bagi artis, aktor maupun penyanyi panggung mereka adalah panggung hiburan tempat yang akan selalu dinantikan untuk menampilkan kemampuan terbaiknya hingga seluruh fans atau penggemar menjadi terhibur dan tidak merasa bosan sampai tidak sadar kalau mereka telah berdiri selama dua jam. Lalu bagaimana dengan guru? Panggung bagi seorang guru adalah di depan kelas ketika mengajar. Seorang guru juga harus selalu berusaha sebaik mungkin untuk tampil di “panggungnya” memikat dan menghipnotis para muridnya dengan penampilan terbaik yang telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Guru dan artis pada dasarnya sama-sama penghiburyang memiliki panggung. Andaikan setiap guru mampu mengoptimalkan penampilannya saat di depan kelas layaknya sebuah pertunjukan, maka saya sangat optimis yang namanya pembelajaran akan jauh lebih menarik dan menyenangkan. Bayangkan saja jika setiap guru selalu dinantikan kehadirannya untuk masuk kelas oleh murid dan mengajarnya. (bayangin aja jika anda mau masuk kelas “naik panggung” seluruh fans “murid” telah memanggil-manggil nama anda, nggak mungkin ya?…yah namanya aja cuman bayangin)

Setiap penyanyi yang manggung pasti akan berusaha sebaik mungkin menyanyikan lagunya supaya dapat diikuti dan dihayati oleh pendengarnya. Setiap artis film maupun sinetron pasti akan berusaha menghayati peran yang dilakoninya supaya penonton terbawa dengan suasana film maupun sinetron yang dimainkannya. Begitu juga dengan guru, guru harus mampu melaksanakan proses pembelajaran sebaik mungkin apapun materi yang diajarkan, sehingga murid seolah-olah terhipnotis dan hanyut dalam materi yang diajarkan.

Kunci dari setiap penghibur yang sukses adalah persiapan yang baik dan belajar dari seniornya. Seorang guru yang berjiwa penghibur juga pasti akan selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin dan jangan sampai murid merasa kecewa dengan penampilannya di “panggung”, dan juga akan selalu mengevaluasi  setiap penampilannya dalam mengajar, entah itu belajar dari senior maupun sharing dengan rekan guru dikantor.

Guru dan artis sama-sama penghibur, jadi apakah anda siap untuk mempersiapkan diri dan mengubah cara pandang anda untuk menjadi artis yang memiliki jiwa penghibur di kelas?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.