JADIKAN MURID SEBAGAI TANTANGAN

Pada suatu kesempatan di unit kerja pertama saya dahulu, saya diminta untuk menggantikan seorang wali kelas yang mengajar di kelas 3B yang saat itu beliau diangkat sebagai PNS dan kemudian ditugaskan untuk mengajar di sekolah lain. Sebagai gambaran, dari segi waktu saat itu menginjak pergantian semester, dari semester I masuk ke semester II. Dari segi kondisi kelas bisa dikatakan luar biasa hebatnya, mengapa saya katakan luar biasa hebat? Karena selama satu semester kelas tersebut telah dimanjakan dengan tanpa banyak tugas, tidak banyak PR, tidak ada ulangan, kondisi kelas yang sangat bebas dan tidak ada teguran atau hukuman bagi yang bermasalah. Bisa dikatakan kelas tanpa beban belajar. Hampir seluruh guru yang kebetulan mengajar di kelas tersebut sepakat bahwa kelas tersebut adalah kelas yang paling “istimewa” karena sulitnya mengatur dan mengondisikan kelas tersebut. Hal ini sangat jauh berbeda dengan kelas 3A yang berada tepat disampingnya. Kelas 3A adalah kelas yang mudah diatur dan yah…anggap saja anak-anak manis yang mudah diatur.

Hampir tidak saya terima permintaan kepala sekolah waktu itu mengingat beratnya tanggungjawab dan beban kondisi kelas yang terlalu rumit, akan tetapi saya menjadikan kondisi kelas yang sedemikian rupa itu menjadi sebuah tantangan. Tantangan? Ya betul tantangan yang harus saya taklukkan, jika saya bisa merubah kelas itu menjadi lebih baik, maka sebuah keberhasilan bagi saya dan saya yakin saya mampu untuk merubah kelas tersebut meski hanya ada waktu tersisa satu semester.

Pertama saya masuk sebagai wali kelas pengganti di hari pertama masuk semester II, saya buat kontrak belajar dengan semua murid kelas 3B tanpa terkecuali. Diluar dugaan saya, di hari pertama ketika saya masuk dan membuat kontrak belajar dengan semua murid, tercatat ada 3 murid yang menangis ditempat. Saya yakin mereka yang menangis itu bukan menangis karena terharu melainkan gambaran beratnya hari-hari yang akan dilaluinya dengan saya sebagai wali kelas baru. Prinsip saya ketika itu, mau berapa anak yang menangis ketika itu saya tidak ambil pusing, mau berapa anak yang lapor dan membawa orang tuanya ke sekolah justru saya harapkan. Dan ternyata betul ada beberapa anak yag langsung melapor ke pada orang tuanya, dan hehehe….seperti lagunya Ahmad Dhani “Hadapi Dengan Senyuman”. Semua beres dan justru mendukung dengan apa yang saya terapkan di kelas tersebut. Memang tidaklah mudah memulai dan terus berpegang teguh pada aturan yang telah dibuat, namun saya tetap pada prinsip awal dan konsisten terhadap aturan dan kontrak belajar yang telah saya buat. Pada akhirnya ketika akhir semester dan penerimaan raport, perubahan drastis terjadi pada sikap dan nilai pelajaran yang diperoleh anak-anak yang semakin baik dan lebih baik dibanding dengan kelas 3A. Dan yang paling terlihat adalah kebersamaan dan kekompakan mereka.

Belajar dari pengalaman tersebut, kondisi apapun yang dihadapi oleh setiap guru terhadap murid-murid di kelas, ternyata tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dengan maksimal. Jadikan kondisi murid atau kelas sebagai tantangan yang harus dijawab. Justru bersyukurlah jika menemui kondisi murid atau kelas yang seperti itu karena anda benar-benar diuji tentang kualitas guru yang ada pada diri anda, akan tetapi jika anda menemui kondisi murid atau kelas yang sudah mapan, hehehe…ya tetap disyukuri saja, kenapa? Yang jelas anda tidak perlu “berlatih kesabaran”, betul tidak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.