JADILAH GURU YANG DICINTAI

Sedekah apakah yang paling mudah? Senyum, ya senyum adalah sedekah yang paling mudah dan memberikan dampak yang sangat luar biasa. Senyum sangat memainkan perannya yang sangat penting, tidak hanya dalam batas-batas sekolah, akan tetapi juga di dalam lingkungan masyarakat pada umumnya. Senyum adalah ekspresi kebahagiaan, ketulusan, dan suatu bentuk dari cinta.

Sedekah senyum bisa kita biasakan ketika kita berada di sekolah, karena sekolahan seharusnya juga menjadikan senyum sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar. Seorang guru seharusnya mampu menyentuh hati murid-muridnya melalui daya tarik senyumnya (tapi jangan senyam senyum sendiri yang justru tidak hanya murid, karena  rekan gurupun pasti akan takut di dekat anda), karena dengan senyum yang diberikan guru kepada muridnya dapat memberikan “steroid” kepercayaan diri pada setiap murid.

Jika seorang murid sudah happy dengan fellingnya, maka hubungan antara guru dan muridpun tidak sekedar antara guru dan murid, melainkan dapat terjalin komunikasi yang efektif yang mampu memberikan rasa nyaman pada murid. Perkembangan kemajuan anak-anak didik terhadap proses belajarnya akan terjadi ketika mereka mulai menyukai dan mencintai gurunya.

Ketika kuliah saya pernah tidak suka pada seorang dosen yang mengajar, dampaknya sayapun juga kurang respek terhadap setiap mata kuliah yang diampunya. Dari pengalaman tersebut, saya melihat bagaimana mungkin murid akan senang dengan pelajaran yang kita ajarkan sedangkan mereka (para murid) tidak suka terhadap kita yang menjadi gurunya.

Murid-murid besar kemungkinan tidak akan fokus pada pelajaran yang kita sampaikan, dan bisa dipastikan kita akan “dicampakkan” saja ketika kita menerangkan di depan kelas. Atau pura pura mendengarkan apa yang kita terangkan (pengalaman pelaku hehehe…)

Bisa jadi tidak hanya murah senyum saja yang dapat kita berikan. Perhatian dan kepedulian terhadap murid juga menjadi nilai tersendiri bagi murid. Jika murid sudah suka terhadap gurunya, maka bisa dipastikan proses belajar mengajar akan lebih mudah. Murid merasa nyaman, maka muridpun tidak akan takut atau sungkan untuk bertanya terhadap pelajaran yang belum dipahaminya. Murid juga akan lebih mudah berpikir karena merasa ada kebebasan berpikir dan otomatis kelas akan menjadi hidup.

Sebagai guru kita memang dituntut untuk menjadi orang tua sekaligus sebagai teman bagi murid kita. Ketika kita memposisikan diri sebagai teman, maka hendaknya kita mampu melebur menjadi bagian dari teman bagi murid kita yang enak diajak ngobrol, bercanda, atau apalah kegiatan anak-anak dengan tetap sedikit menjaga jarak jangan sampai kebablasan sehingga sikap hormat murid terhadap kita sebagai guru menjadi hilang.

Jadilah guru yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya, bukan guru yang ditunggu-tunggu ijinnya. Jadilah guru yang dicintai oleh muridnya, bukan guru yang dibenci oleh muridnya. Bagaimana murid mau mencintai pelajarannya jika dia tidak mencintai gurunya. Jadi buatlah murid mencintai anda sebagai sosok guru yang selalu ditunggu kehadirannya.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.