JANGAN MAU JADI GURU BIASA

Suatu hari bel berbunyi..anggap saja hari Selasa, lho..kenapa ambil hari selasa? Kenapa nggak hari senin atau rabu atau hari yang lain? Hehehe..terserah saya dong yang ambil contoh hari Selasa, kan saya yang nulis..kembali ya..Disuatu hari Selasa bel sekolah berbunyi jam 07.00 pagi tanda masuk sekolah bagi para murid. Di ruang gurupun telah siap dengan segala persiapannya para guru untuk segera masuk ke kelas memulai pelajaran hari itu. Setiap guru telah siap dengan persiapan administrasinya dalam pembelajaran. RPP ditenteng dengan buku pegangan yang terlihat agak berat dan daftar nilai serta jurnal yang terselip diantara tumpukan buku-buku yang dibawa dari meja kantor. Satu materi telah selesai dan dilanjutkan dengan materi yang lain tanpa memperdulikan murid faham atau tidak yang penting materi tuntas. Hingga akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi, tanda selesai sekolah hari itu. Murid pulang dan gurupun pulang. Sekolah berubah menjadi hening, kembali seperti sedia kala.

Apakah anda berbeda dengan gambaran guru di atas? Atau anda agak sama dengan gambaran guru di atas? Atau justru anda sama dengan gambaran guru di atas?

Memangnya terus kenapa? Masalah? Sadar atau tidak jika anda sama dengan gambaran di atas, maka itu tidak akan ada masalah dengan anda, akan tetapi jika dilihat dalam konteks yang lebih besar, maka itu akan bermasalah dengan kondisi pendidikan kita terutama tanggungjawab kita sebagai seorang guru.

Jika anda sebagai guru berjalan hanya sekedar melaksanakan tugas anda sebagai guru, maka kemungkinan besar orang lain yang tidak berprofesi sebagai gurupun bisa seperti anda, atau mungkin orang lain akan lebih baik dari anda meski orang lain itu bukan seorang guru. Misalkan saja tukang bakso atau sopir truk, jika dia diajari cara mengajar layaknya seorang guru seperti pada gambaran diatas, maka saya yakin mereka itu kemungkinan besar akan sangat bisa..yah..setidaknya kalau nggak sama kualitasnya dengan anda yang merasa seperti gambaran guru di atas minimal hampir menyamai sedikitlah.

Jika kita datang ke sekolah, bel masuk kita mengajar di kelas, tanpa melihat murid faham materi atau tidak yang penting materi hari itu tuntas, bel pulang kita pulang, dan begitu seterusnya, maka kita harus segera melabeli kita sebagai GURU BIASA.

Sudah nggak jamannya kita hanya puas sebagai guru biasa, dengan kata lain kita harus berani mengup gradediri kita untuk dapat menjadi GURU LUAR BIASA. Hanya saja yang menjadi masalah adalah mau apa nggak kita mengup grade diri kita untuk dapat berubah dari guru biasa menjadi guru luar biasa.

Bagi yang mengajar di sekolah swasta, menjadi guru luar biasa sudah menjadi tuntutan tersendiri dalam pelaksanaan keseharian. Apalagi guru-guru swasta yang mengajar di sekolah-sekolah elit (eling duit), maksudnya sekolah-sekolah berbiaya mahal, tuntutan menjadi guru luar biasa sudah mutlak dan sesuatu yag tidak bisa ditawar, karena terkait dengan imej sekolah yang masuk kategori sekolah elit tadi. Berbeda dengan guru-guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang mengajar di sekolah negeri, hasil pengamatan adalah guru-guru yang bertitel guru PNS mayoritas berlabel guru biasa, meski ada juga beberapa diantara guru PNS yang juga guru luar biasa, namun yah..mereka yang berlabel guru luar biasa dari PNS hanya minoritas atau mungkin lebih tepatnya sangat minoritas.

Guru luar biasa tidak hanya sekedar datang mengajar kemudian pulang, akan tetapi melaksanakan pembelajaran tidak hanya sekedar berorientasi pada melaksanakan pengajaran, lebih dari itu adalah berorientasi pada pemahaman murid terhadap materi dan pemahaman terhadap kondisi murid. Guru yang berorientasi pengajaran selalu mengutamakan terselesaikannya materi, sehingga ketika jadwal ujian datang, guru tersebut tidak ada beban terhadap materi yang belum tersampaikan tanpa memperdulikan kondisi murid, apakah murid yang diajar itu faham terhadap materi yang diajarkan atau tidak.Hal ini berbeda dengan guru luar biasa. Guru luar biasa selain membekali diri dengan mempersiapkan proses pembelajaran dengan baik, dia juga merasa bertanggungjawab serta peka terhadap kondisi murid yang dihadapinya. Kondisi murid yang berbeda (tidak mudah faham materi) tidak dianggap menghambat materi, justru sebuah tantangan untuk mencari cara bagaimana murid tersebut dapat memahami maksud dari materi yang disampaikan tanpa harus mengumbar emosa atau emosi.

Apakah sulit menjadi guru luar biasa? Jawabannya adalah relatif..lho? kok relatif? Relatif karena secara psikologis jika seseorang sudah berada di posisi aman dan nyaman, kebanyakan tidak akan mau beranjak dari posisi tersebut dengan melakukan hal-hal yang lebih menantang. Jika seorang guru yang hanya sebagai guru biasa dan itu tidak dipermasalahkan maka keyakinan saya adalah dia akan selamanya menjadi guru biasa. Tengok saja guru-guru yang saat ini sudah memperoleh sertifikasi, bukankah seharusnya mereka harus profesional dan mengajar dengan lebih dari sekedar sebagai guru biasa? kebanyakan dari mereka yang saya amati adalah mereka masih guru biasa. (anda boleh sambil melirik atau melihat teman guru di kantor anda yang sudah sertifikasi dan menilai bagaimana mengajarnya)

Pertanyaannya sekarang adalah apakah anda berani keluar dari zona aman dan nyaman anda untuk kemudian berani menjadi guru yang luar biasa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.