JANGAN MUDAH BERKATA“BODOH!”

Pada suatu hari saya berjalan-jalan di sebuah toko buku di kota Solo untuk sekedar mencari buku bacaan baru. Meski di dalam rak buku rumah juga masih ada beberapa buku “baru” yang masih tersegel atau belum sempet kebaca (baca_sok sibuk). Awalnya saya hanya sekedar lihat-lihat buku yang baru terbit mulai dari buku cerita, buku authobiografi, buku tentang koomputer, macem-macem deh sampai buku MIMS. Tahu nggak MIMS? Bukan singkatan dari Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Swasta loh…Kalau nggak tahu ya sudah, tapi kalau penasaran dateng aja ke Gramedia, dan seandainya di daerah anda tidak ada Gramedia coba deh ke Jakarta lalu tanya ke pak Jokowi, “Pak, Gramedia di Solo itu daerah mana?”.

Ketika sedang asyik menelusuri buku-buku, saya meihat sebuah buku yang sebenarnya pernah saya lihat satu tahun lebih yang lalu. Bukunya Mas Ajahn Brahm. Pasti nggak kenal kan sama dia? Nggak penting kok, Iseng-iseng saya baca beberapa lembar secara acak hingga saya baca kisah Anak di Pasar Swalayan.

Diceritakan ada serang anak menjatuhkan sekotak susu di bagian kasir pasar swalayan, kotaknya terbuka dan susunya tumpah mengenai lantai. “Anak bodoh”, kata ibunya.

Di lorong sebelahnya, seorang anak lain menjatuhkan sekotak madu, kotak itu juga pecah dan madunya menjalar ke lantai. “itu perbuatan bodoh, Nak”, kata ibunya.

Anak pertama telah dicap sebagai anak bodoh, sedangkan anak yang satunya cuma ditegur karena suatu kesalahan. Anak yang pertama mungkin akan benar-benar menjadi anak yang bodoh, sedangkan anak yang satunya akan belajar untuk tidak lagi melakukan perbuatan bodohnya.

Kita ini sebagai guru tidak jarang diuji kesabarannya oleh murid-murid seperti nggak mengerjakan PR, PRnya ketinggalan, lupa tidak mengerjakan, dsb. Mungkin di awal-awal pertemuan kita masih toleran, akan tetapi ketika ada beberapa murid yang jarang mengerjakan PR, nilai ulangan jelek, ditambah biang keramaian di kelas. Terkadang kita juga tidak sungkan untuk memberi label BODOH bahkan mungkin ada yang sampai berkata “Kamu BODOH, makanya belajar!”.

Label BODOH yang telah kita berikan itu terkadang menjadikan murid berfikir, “Masak sih saya BODOH?” atau “Memang saya BODOH” sehingga bisa jadi sangat mempengaruhi alam bawah sadarnya yang kemudian memunculkan citra bagi dirinya “Ya….saya memang BODOH”.

Menjadi sebuah pantangan utama bagi setiap guru untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang bermakna merendahkan atau menghakimi murid akan sikap dan perbuatannya. Jangan lupa, sebagai guru di sekolah kita juga berarti sebagai orang tua bagi seluruh murid. Dan sebagai orang tua hendaknya mampu menahan setiap perkataan kepada murid karena bisa jadi apa yang kita ucapkan dapat dikabulkan oleh Tuhan kita.

Cobalah untuk mengingat ungkapan-ungkapan yang telah atau pernah kita lontarkan kepada murid-murid “istimewa” kita. Bisa jadi jika kebetulan ada murid yang benar-benar “istimewa” di sekolah, ternyata kita memiliki andil yang sangat besar terhadap “keistimewaan”nya.

Jika ternyata kita punya andil akan kondisi “istimewa” murid kita, lalu siapa yang salah? Kita atau murid kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.