LIHATLAH YANG LEBIH BESAR

Pernah suatu hari saya berniat membuat kandang ayam di halaman belakang rumah. Sudah saya beli bambu yang dibutuhkan berikut kelengkapannya seperti paku, kawat, dsb. Singkat cerita saya selesaikan untuk memotong bambu sesuai ukuran yang dibutuhkan “hanya” dalam satu hari penuh. Jangan tanya untuk orang lain deh….karena mereka mungkin selesai dalam dua atau tiga jam saja. Maklumlah karena nggak ada bakat pertukangan. Saya sangat mengakui untuk urusan tukang menukang jika dibandingkan dengan istri saya maka lebih jago dia. Tapi karena ini urusannya masalah kandang, maka terpaksa saya sendiri yang harus menyelesaikan. (sebagai catatan bahwa setelah selesai memotong bambu sesuai dengan ukuran, saya terpaksa hentikan kurang lebih empat hari disebabkan tangan pada NJAREM-NJAREM)

Setelah agak sembuh mulailah saya memaku satu demi satu bambu yang ada. Karena tidak bakat bidang perpakuan, di tiga atau empat paku awal paku-pakunya pada bengkok. Lambat laun mulai tahu irama memaku dan pada akhirnya selesailah kandang ayamnya.

Saya lihat sekeliling kandang itu ternyata ada yang aneh. Ya….ternyata paku-paku yang bengkok pada awal saya memaku menyebabkan kandang tersebut kurang nyaman untuk dilihat. Ingin rasanya saya membongkar, tapi istri saya mengingatkan akan usaha yang telah saya lalui termasuk merasakan njarem di lengan dalam beberapa hari.

Setelah beberapa hari kandang jadi dan saya taruh begitu saja di halaman belakang rumah, istri saya menemui saya dan berkata “Kandangnya bagus, bisa di taruh di pojok saja”. Kandangnya bagus? Sebuah pernyataan yang membuat saya berfikir sejenak.

Bagus dari Hongkong kali, tetapi bagi istri saya, kandang hasil buatan saya terlihat bagus (untuk ukuran saya yang bukan ahlinya membuat kandang). Dilihatnya kandang itu dari samping, depan, serta atas yang dilihatnya adalah sebuah kandang ayam yang bagus dan tidak dikomentarilah beberapa paku yang bengkok.

Nah, terkadang ketika kita menjumpai sebuah permasalahan di dalam kelas, seolah-olah permasalahan tersebut menjadi sebuah gambaran atau cerminan dari kelas tersebut. Padahal yang terkait dengan masalah tersebut mungkin hanya 2-3 anak dari 30 murid yang ada di dalam kelas.

Bayangkan….kita sudah heboh dengan 3 murid itu sehingga 27 murid lainnya yang tidak tahu menahu dengan masalah yang ditimbulkan ke tiga murid tersebut menjadi terkena imbasnya.

Setiap guru pasti akan menjumpai “paku-paku bengkok” di dalam kelas. Lalu jika ada paku-paku bengkok di dalam kelas apakah akan kita bongkar kelas tersebut?

Akan lebih bijaksana mungkin, jika kita menganggap “paku bengkok” tersebut menjadi sebuah ciri khas yang menjadikan kelas tersebut menjadi kelas spesial, kelas yang LUAR BIASA yang tidak akan ditemukan dikelas lain atau sekolah lain. Dan saya yakin semua murid yang ada di dalam kelas tersebut termasuk si “paku bengkok” akan merasa sangatdihargai. Bisa!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.