MENJADI GURU PEMBELAJAR

Suatu hari si Jono pergi ke sekolah, dia masih kelas 1 sekolah dasar dipinggiran kota. Sesampainya di kelas, saat pelajaran, Jono ditanya oleh ibu gurunya, “Jono, apa cita-cita kamu kelak kalau sudah besar?”, Jono menjawab, “Jadi presiden bu!”, “Bagus!” jawab bu guru. Hingga perjalanan waktu, Jono sempat betah di kelas 4 (nggak naik kelas maksudnya). Lulus SD, Jono langsung nyari SMP yang sesuai dengan standart nilainya. Karena ketika di SD, Jono tergolong anak yang “beruntung” (beruntung naik kelas dan beruntung bisa lulus), maka Jonopun mendaftar di SMP yang cukup lumayan, lumayan ada muridnya.

Kondisi ini tidak menyurutkan Jono untuk terus semangat belajar. Baginya toh sama saja pelajaran yang diajarkan, yang berbeda mungkkin cuma teman, tempat, dan fasilitasnya yang berbeda dibandingkan dengan di SMP favorit. Kenaikan kelas akhirnya tiba dan tidak disangka Jono masuk dalam 10 besar dari anak kelas I di SMPnya, mungkin ini prestasi yang luar biasa baginya, dibandingkan ketika dia masih di SD dulu. Dari prestasi awal ini, ternyata membuat Jono semakin bersemangat untuk membuktikan bahwa dia mampu untuk berprestasi lebih.

Bagi kebanyakan guru atau pendidik yang ada saat ini, kebanyakanmereka selalu berprinsip bahwa proses pembelajaran hanyalah bagi murid atau anak didik saja. Posisi guru adalah sebagai sumber materi yang selalu berada pada tingkatan di atas murid. Pada kondisi tertentu mungkin tepat seperti guru pada sekolah dasar (SD), namun untuk beberapa kondisi kekinian pandangan tersebut harus berani digeser. Apalagi adanya teknologi yang semakin maju dan seolah barang-barang seperti laptop, HP, ataupun yang trend saat ini seperti gadget yang bukan lagi menjadi barang wah atau mewah.

Pada suatu hari ketika sedang jalan-jalan di salah satu Mall di kota Solo, saya sejenak mampir di foodcourtnya. Banyak orang berlalu lalang sambil menenteng atau malah sebenarnya banyak yang memainkan gadgetnya. Ada yang sekedar main game, update status medsos karena wifi gratisan, sampai yang mencari artikel-artikel tertentu sesuai kebutuhan mereka, namun yang membuat saya heran adalah ternyata di sana banyak juga anak-anak usia sekolah dasar yang sibuk bermain gadget sambil “menemani” orang tuanya yang sedang makan setelah berbelanja.

Kemajuan dan perkembangan luar biasa teknologi yang dari hari ke hari semakin tidak dapat diprediksi, ternyata membawa konsekuensi yang sangat besar bagi para guru sebagai pendidik di sekolahan. Dunia saat ini bukan lagi jaman mesin ketik yang sangat berisik ketika tombol-tombol huruf ditekan bersautan. Cobalah jujur pada diri sendiri dan jawab pertanyaan ini, “Apakah anda pernah menggunakan mesin ketik atau setidaknya komputer dengan masih menggunakan disket ?” (Jujur ya Bro…)

Jika anda menjawab, Ya, maka anda termasuk makhluk kuno yang harus bisa mengupgrade diri sesuai dengan kondisi saat ini. Karena hanya dengan mengupgrade diri, maka anda tidak akan tergilas oleh generasi yang terlahir setelah jaman kejayaan mesin ketik.

Belajarlah!! Ya belajarlah, karena gurupun juga harus belajar, bukan sekedar belajar akan ditetapkannya kurikulum baru, akan tetapi belajar juga menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan tuntutan masanya. Jika sekarang masanya komunikasi serba canggih yang sudah berkembang dengan medsos atau androidnya, maka anda sebagai guru atau pendidik jangan bersikap kaku dan berpegang teguh hanya pada Nokia 3310 atau Ericsson T28 atau bahkan Siemens C35 yang telah usang dimakan zaman.

Belajarlah untuk merubah paradigma bahwa guru berperan sebagai penyiram tanaman daripada sebagai penuang air. Anggaplah murid sebagai tanaman yang memiliki potensi untuk tumbuh sendiri, daripada sebagai sebuah gelas kosong yang hanya dapat penuh bila ada yang mengisi. Artinya, guru harus mampu mengubah paradigma pembelajaran yang tadinya menjadikan murid sebagai objek pembelajaran, bergeser pada paradigma murid sebagai subjek dalam pembelajaran. Ketika paradigma ini telah terbangun, situasi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan berpeluang besar untuk dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran.

Guru memang harus belajar dan menjadikan diri sebagai pelajar juga. Coba deh…pernah nggak anda bertanya pada diri sendiri, adakah kemajuan pada diri anda sebagai guru menjadi lebih baik daripada tahun sebelumnya atau hari-hari sebelumnya ketika anda mengajar untuk murid anda? Jika anda merasa masih sama saja atau tidak ada perubahan, maka saat inilah anda harus berani merevolusi pola pikir bahwa hanya murid saja yang belajar, melainkan andapun juga harus mulai dan selalu belajar untuk mengejar ketertinggalan dalam mengajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.