Catatan Ringan

Hindari 10 Hal Ini dalam Mendidik Anak

Ada banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak dari papanya, mulai dari kedisiplinan, ketangguhan, ketekunan, cara bertanggung jawab, sikap empati, atau pun pantang menyerah. Oleh karenanya kehadiran papa dalam mendidik anak-anak sangat dibutuhkan. Keterlibatan Papa dalam mengasuh anak dapat membawa dampak positif seperti peningkatan perilaku baik atau prestasi akademik anak.
  
Oleh karenanya, papa perlu pendekatan yang tepat dalam mendidik anak-anaknya. Wayne Parker, penulis Power Dads: The Ten Basic Principles Successful Fathers Use to Raise Responsible and Happy Children  mengatakan bahwa kesalahan yang dilakukan seorang papa dalam mendidik anak-anaknya, akan menjadi hambatan bagi anak-anak sendiri di masa depan. Ia menyebutkan sepuluh hal yang sebaiknya dihindari oleh seorang papa dalam mendidik anak-anaknya, yakni:

  1. Mendisiplinkan Anak dengan Kemarahan
Tak dapat dipungkiri, menjadi orang tua yang sabar memang tidak mudah. Akan tetapi, Anda bukannya tidak boleh marah, kok. Marah adalah emosi normal yang bisa dirasakan oleh setiap manusia, termasuk orang tua. Hanya saja, Anda harus menyelesaikan dulu kemarahan Anda sebelum berinteraksi dengan anak.
 
“Anda harus selalu berusaha untuk tidak mendisiplinkan anak saat Anda marah,” ujar Parker. Saat marah, Anda tidak akan mampu berkomunikasi dengan baik. Anak pun juga akan menurut sejenak hanya karena agar Anda berhenti mengomel atau membentak, bukan karena ia mengakui kesalahannya. 

Jadi, saat kemarahannya sudah sampai klimaks, ambil waktu jeda dulu untuk menyingkir dari anak, ya, Pa. Kembali lagi kalau Anda sudah tenang dan bisa bicara dengan si kecil. “Anak-anak paling baik merespons pendekatan yang tenang,” imbuh Parker.
  
2. Memberi Hukuman Fisik pada Anak
Memukul, menjewer, mencubit, mendorong anak, waduh, jangan sampai, ya, Pa. Apa pun alasannya, cara ini tidak akan efektif. “Ini mengajarkan seorang anak bahwa cara menghadapi konflik adalah dengan menggunakan kekuatan fisik,” ujar Parker.
 
Parker juga menambahkan, “Ingat, peran utama Anda adalah guru.”
 
3. Tidak Konsisten
Kadang boleh begini, kadang tidak boleh. Kadang si kecil harus menerima konsekuensi karena telah melakukan sesuatu, kadang juga dibebaskan. Intinya, papa tidak konsisten dalam menerapkan aturan dan konsekuensi. Kadang-kadang, aturan ditegakkan sesuai mood papa. Kalau lagi rungsing, semua-semua dilarang. Kalau lagi bahagia, semua pun diizinkan. Jangan begini, ya, Pa.

Anak akan menjadi bingung dan tidak tahu apa yang diharapkan. Anak akan merasa hidup dalam ketidakpastian. Itu membuat mereka cemas. Konsistenlah dalam menjalankan aturan dan konsekuensi yang sudah disepakati bersama keluarga. 

4. Menyuap Anak
Menjanjikan anak sesuatu seperti hadiah agar ia mau melakukan seusatu atau berperilaku sesuai keinginan Anda sama saja dengan menyuap. Hal tersebut menurut Parker hanya mengajarkan seorang anak menjadi rendah diri karena berpikirbahwa mereka baru pantas mendapatkan hadiah jika mematuhi orang tuanya saja. Atau sebaliknya, mereka juga malah akan berpikir bahwa mereka harus mendapatkan hadiah untuk setiap hal yang disukai orang tuanya. Selain itu, memanjakan anak dengan hadiah juga punya beberapa dampak buruk lainnya.
 
5. Memberikan Konsekuensi yang Tidak Berhubungan dengan Kesalahan Anak
Ini adalah kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua. Orang tua perlu belajar bahwa salah satu cara mendisiplinkan anak yang efektif adalah melalui pemberian konsekuensi yang sesuai dengan kesalahannya.
 
Misalnya, bila anak tidak mau membereskan mainannya sendiri, cara mendisiplinkannya bukan dengan membuang mainan mereka, melainkan dengan membiarkan kamar mereka tetap berantakan sehingga mereka tidak nyaman atau kesulitan mencari barang. Atau, bila anak melanggar aturan screen time, konsekuensi yang tepat bukanlah dengan merampas gadget-nya, melainkan dengan mengurangi durasi screen time mereka berikutnya.
 
Pelajari syarat memberi konsekuensi yang efektif dalam mendisiplinkan anak.  

6. Jangan Pernah Membuat Anak Tidak Menghargai Mamanya
Salah satu masalah yang sering terjadi adalah tidak kompaknya Papa dan Mama dalam menerapkan aturan dan konsekuensi. Hal ini bisa terjadi ketika papa malah memberikan keringanan saat mama berusaha tegas pada anak. Tak hanya itu, papa juga bisa saja membebaskan anak dan menganggap aturan itu tak berlaku.
 
Padahal, sangat penting bagi kedua orang tua untuk konsisten dalam mengasuh dan mendisiplinkan anak. Selain membuat anak bingung mengenai aturan yang berlaku, hal ini juga akan melatih mereka untuk tidak menghargai Mamanya. Seperti yang dikatakan oleh Parker bahwa perilaku seperti itu cenderung menghancurkan kredibilitas orang tua lainnya. “Jika Anda memiliki perbedaan pendapat, diskusikan secara pribadi satu sama lain,” saran Parker.
 
Bila memang Papa dan Mama memiliki perbedaan pendapat dalam mengasuh anak, selesaikan dulu agar tidak sampai membingungkan anak.
 
7. Jangan Ragu dengan Peran Anda
Jangan merasa berkewajiban untuk mendapatkan persetujuan anak Anda untuk disiplin yang Anda terapkan,” ujar Parker. Ia mengingatkan, “Anda adalah orang tua dan memiliki tanggung jawab untuk mendisiplinkan.” 

Peraturan dan konsekuensi di dalam keluarga memang harus didiskusikan bersama dulu dengan semua orang, termasuk anak sendiri. Dan, di dalam diskusi tersebut, wajar saja bila ada keberatan atau ketidaksetujuan. Tugas Anda sebagai orang tua bukanlah menuruti semua yang diinginkan anak dan menghilangkan apa yang tidak ia setujui, melainkan mengompromikan apa yang terbaik bagi kedua pihak—orang tua dan anak.
 
8. Membuat Anak Merasa Bersalah
Saat sedang kesal pada anak, tak jarang orang tua membuat anak merasa bersalah karena harus membuat orang tuanya berkorban, seperti “Papa capek kerja demi kamu, ya. Masa begini saja kamu nggak bisa?” atau “Kamu nggak kasihan sama Papa? Papa pergi pagi, pulang malam untuk bisa bayar sekolah kamu, beli mainan,” atau “Gara-gara kamu, nih, Papa jadi pusing.”
 
Parker berpesan bahwa anak tidak harus bertanggung jawab atas apa yang Anda alami atau apa yang Anda rasakan.
 
9. Menceramahi Anak
Menurut Parker, menceramahi anak atas kesalahan yang mereka lakukan biasanya hanya akan menghasilkan kebencian daripada pembelajaran. “Pendekatan yang lebih baik untuk disiplin anak adalah dialog untuk mencari tahu mengapa perilaku mereka tidak seperti yang seharusnya,” tuturnya.  Parker menyarankan, setelah Anda menemukan alasan si kecil, kemudian bantu ia mengembangkan rencana untuk mengatasi masalah yang menjadi alasannya tersebut.
 
10. Membandingkan Anak
Anda mungkin berpikir hal ini bisa memotivasi anak secara positif. Akan tetapi, Parker mengingatkan, “Sebaliknya, perbandingan hanya menumbuhkan kebencian. Cobalah untuk melihat setiap anak sebagai individu yang unik dengan bakat dan kekuatannya masing-masing,” pesannya.

126 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.