Catatan Ringan

Labirin Pendidikan: Antara Visi Luhur dan Dilema Transisi Kebijakan

Pendidikan seringkali diibaratkan sebagai sebuah kapal besar yang memuat harapan jutaan anak bangsa, mengarungi samudra peradaban yang penuh tantangan demi mencapai dermaga kesejahteraan dan kecerdasan. Dalam pelayaran yang panjang dan melelahkan ini, kapal tersebut secara ideal membutuhkan sebuah kompas statis berupa visi pendidikan yang kokoh, konsisten, dan tidak tergoyahkan oleh angin politik sesaat agar tetap berada pada jalur yang benar. Namun, realita yang terjadi di Indonesia justru menunjukkan gambaran yang kontras; “kompas” strategis tersebut kerap kali dipaksa berganti arah dan orientasi setiap kali nakhoda di kementerian berganti. Fenomena “ganti menteri, ganti kebijakan” ini menciptakan disorientasi di atas geladak, di mana para pendidik dan peserta didik dipaksa untuk terus-menerus beradaptasi dengan peta jalan yang baru sebelum sempat memahami peta jalan sebelumnya, yang pada akhirnya justru membuat kapal besar ini tampak hanya berputar-putar di tengah lautan tanpa pernah benar-benar mendekati tujuan hakikinya.

1. Filosofi vs Realita: Arah Pendidikan Indonesia

Secara konstitusional, tujuan pendidikan Indonesia sangatlah mulia: “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang berlandaskan iman, takwa, dan akhlak mulia. Melalui Profil Pelajar Pancasila, arah pendidikan saat ini mencoba menitikberatkan pada kemandirian dan nalar kritis.

Namun, tantangan terbesar muncul dari fenomena yang akrab disebut “Ganti Menteri, Ganti Kurikulum”. Dalam dua dekade terakhir, Indonesia telah bertransisi dari Kurikulum 2004 (KBK), KTSP 2006, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka. Ketidakmenentuan ini seringkali menciptakan “kelelahan administratif” bagi guru yang lebih sibuk memahami format pelaporan baru daripada melakukan inovasi pedagogis di kelas.

2. Studi Komparasi: Mengapa Negara Maju Lebih Stabil?

Berbeda dengan Indonesia, negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik cenderung memisahkan politik praktis dari arsitektur pendidikan.

AspekIndonesiaFinlandia / JepangSingapura
KontinuitasBergantung pada visi menteri yang menjabat.Konsensus nasional jangka panjang (30+ tahun).Berbasis pada kebutuhan ekonomi & masa depan bangsa.
Fokus GuruSering disibukkan dengan adaptasi administrasi baru.Fokus pada pengembangan metode & kesejahteraan siswa.Investasi besar pada pelatihan guru yang konsisten.
EvaluasiStandar kelulusan (UN/Asesmen) sering berubah format.Evaluasi holistik dan jarang menggunakan tes standar tinggi.Sangat kompetitif namun terukur secara sistematis.

3. Imbas Inkonsistensi Kebijakan

Dampak dari arah yang terus berubah ini terasa pada beberapa lapisan:

  • Bagi Guru: Hilangnya kepercayaan diri dalam mengajar karena standar yang terus bergeser. Guru seringkali hanya menjadi “pelaksana teknis” kebijakan pusat daripada menjadi “arsitek pembelajaran”.
  • Bagi Siswa: Terjadinya “loss learning” saat masa transisi. Perbedaan pendekatan (misalnya dari pendekatan berbasis mata pelajaran ke pendekatan tematik atau proyek) seringkali membuat siswa kehilangan fondasi konsep yang kuat.
  • Bagi Kualitas Nasional: Skor PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia yang cenderung stagnan menunjukkan bahwa perubahan administratif belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas literasi dan numerasi.

4. Mencari Titik Temu: Pendidikan sebagai Investasi Peradaban

Negara maju seperti Finlandia mengajarkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak lahir dari kerumitan dokumen kurikulum, melainkan dari kepercayaan (trust). Mereka memberikan otonomi penuh pada guru tanpa harus mengganti kebijakan setiap kali pemerintahan berganti. Di Jepang, arah pendidikan moral (Dotto) tetap menjadi pilar utama selama berpuluh-puluh tahun, siapapun perdana menterinya.

Indonesia memerlukan sebuah Grand Design Pendidikan Nasional yang dipayungi oleh regulasi setingkat undang-undang yang kuat, sehingga tidak mudah dirombak oleh kepentingan politik sesaat. Pendidikan harus diletakkan di atas kepentingan golongan sebagai investasi peradaban.

Arah pendidikan Indonesia saat ini sedang berusaha mengejar ketertinggalan global melalui fleksibilitas kurikulum. Namun, tanpa adanya stabilitas kebijakan, inovasi sehebat apapun akan layu sebelum berkembang. Kita perlu belajar dari negara maju bahwa pendidikan adalah lari maraton, bukan lari sprint yang arahnya bisa diubah setiap saat.

Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M. Pd (Kepala MI AL AMIN Sinongko, Gedong, Karanganyar)