-
Gaji Buncit, Beban Buncit: Ngobrolin Keadilan Proyek Pendidikan
Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M, Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko Gedong Karanganyar) Malam malam begini enaknya ngopi sambil ngobrolin hal-hal yang serius tapi dikemas santuy. Kita bahas soal proyek pendidikan aja yuk. Soalnya, belakangan ini panas tuh isu soal guru yang gajinya pas-pasan, tapi tiba-tiba ada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang gaji pegawai pengelolanya bikin mata merem melek. Nah, kita bedah yuk, timpangnya keadilan dalam pembagian gaji dan beban kerja antara guru dan para pegawai MBG. Jangan lupa bawa kopi, karena ini mungkin bakal seru. Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Eh Gaji Ngenes Pertama, coba liat para guru. Setiap hari mereka itu kayak superhero tanpa jubah. Mulai…
-
Satu Kantong, Dua Prioritas: Mencerdaskan Otak atau Mengenyangkan Perut dengan Anggaran yang Sama?
Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M. Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko, Gedong, Karanganyar) Ketika Anggaran Pendidikan Bercerita Bayangkan saat ini anda punya dompet yang isinya Rp769 ribu, cukup banyak untuk ukuran dompet harian. Akan tetapi ada dua kebutuhan yang harus dipenuhi membeli buku untuk anak dan membeli makanan untuk seluruh keluarga. Keduanya penting, namun uangnya cuma satu. Nah, kurang lebih itulah potret anggaran pendidikan Indonesia tahun 2026. Pemerintah mengalokasikan Rp769 triliun untuk sektor pendidika, angka yang memenuhi amanat konstitusi 20 persen dari APBN . Tapi ketika kita membuka rinciannya, ada kejutan besar Rp223,56 triliun atau hampir 30 persen dari total anggaran pendidikan ternyata dialokasikan untuk Badan Gizi Nasional (BGN),…
-
Politik Perut di Ruang Kelas: Antara Komitmen Konstitusi dan Realisasi Janji Kampanye
Penulis : Mahar Alamsyah Santosa, M. Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko Gedong Karanganyar) Ketika Janji Kampanye Bertemu Ruang Kelas Sejenak membayangkan suatu pagi di sebuah sekolah dasar. Anak-anak berbaris dengan rapi, bukan untuk upacara, namun untuk menerima sebuah kotak berisi makanan bergizi. Ada senyum yang merekah bahagia di wajah mereka. Di sisi lainnya, para guru sibuk mendata, mengawasi distribusi, memastikan tidak ada yang tertinggal, sementara di Jakarta, para pejabat sibuk menghitung angka: Rp335 triliun anggaran, 82,9 juta penerima manfaat, serta ribuan dapur umum . Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu janji kampanye paling gemerlap dalam Pilpres 2024. Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mengusungnya sebagai program unggulan,…
-
Guru di Era AI: Dari Panggung Depan ke Kursi Kemudi (dan Mungkin Juga Jadi Teknisi Lapangan)
Bayangkan sedang berada di kelas itu, akan tetapi sekarang, mari kita zoom out. Kelas itu cuma satu titik kecil dalam peta besar bernama Sistem Pendidikan Nasional. Sementara Pak Wahab sibuk jadi nahkoda dengan dashboard AI-nya, di luar sana ada Bu Fitri di pelosok Flores yang listriknya empat jam sehari, sinyal internet lebih langka dari air bersih. Lalu ada Pak Lukman, guru honorer di pinggiran Jakarta yang gajinya belum cukup buat beli tablet, apalagi berlangganan ChatGPT Plus. Dan tak ketinggalan, para orang tua yang bingung: “Anak saya kok PR-nya diskusi sama robot, saya sebagai orang tua harus ngapain dong?” Nah, di sinilah obrolan kita jadi lebih seru. Isu guru vs AI…
-
Dari Warung Kopi ke Panggung Kebijakan: Melacak Jejak “Keterlibatan” yang Hilang
Bayangkan lagi kita di warung kopi yang sama, mungkin kopi kedua sudah datang, dan obrolan tentang pernyataan pejabat Kemenag itu mulai meluas. Rasanya seperti membuka satu lapisan bawang, ternyata ada lapisan lagi di bawahnya. Pernyataan itu bukan cuma soal guru dan yayasan; itu adalah pintu masuk untuk melihat bagaimana sebuah sistem besar, bernama “pendidikan agama”, kadang berjalan dengan dua logika yang bertolak belakang. Logika Pertama: Logika Administratif yang Dingin. Di sini, segala sesuatu dikotak-kotakkan. “Kami hanya mengurus yang di bawah payung hukum kami secara langsung.” Guru negeri? Itu urusan kami. Guru swasta yang diangkat yayasan? Itu “urusan internal yayasan”. Dalam logika ini, keterlibatan diukur dari selembar kertas pengangkatan dan daftar…
-
Labirin Pendidikan: Antara Visi Luhur dan Dilema Transisi Kebijakan
Pendidikan seringkali diibaratkan sebagai sebuah kapal besar yang memuat harapan jutaan anak bangsa, mengarungi samudra peradaban yang penuh tantangan demi mencapai dermaga kesejahteraan dan kecerdasan. Dalam pelayaran yang panjang dan melelahkan ini, kapal tersebut secara ideal membutuhkan sebuah kompas statis berupa visi pendidikan yang kokoh, konsisten, dan tidak tergoyahkan oleh angin politik sesaat agar tetap berada pada jalur yang benar. Namun, realita yang terjadi di Indonesia justru menunjukkan gambaran yang kontras; “kompas” strategis tersebut kerap kali dipaksa berganti arah dan orientasi setiap kali nakhoda di kementerian berganti. Fenomena “ganti menteri, ganti kebijakan” ini menciptakan disorientasi di atas geladak, di mana para pendidik dan peserta didik dipaksa untuk terus-menerus beradaptasi dengan…
-
Erosi Adab: Ketika Tangan Siswa Melayang ke Guru
Kasus pemukulan yang dilakukan oleh siswa terhadap guru bukan lagi sekadar anomali, melainkan sebuah cerminan buram dari erosi adab dan etika di lingkungan pendidikan kita. Fenomena ini, semakin sering menghiasi berita utama, tidak hanya menyisakan luka fisik bagi korban, tetapi juga menggores luka mendalam pada martabat profesi guru dan masa depan generasi penerus. Akar masalah ini multidimensional, melibatkan berbagai faktor yang saling terkait. Pertama, Pergeseran nilai dan norma sosial memainkan peran krusial. Di era digital yang serba cepat, batas antara rasa hormat dan kebebasan berekspresi menjadi kabur. Siswa, yang terpapar berbagai informasi tanpa filter, terkadang kesulitan membedakan antara kritik yang membangun dan perilaku yang melampaui batas kesopanan. Budaya permisif yang…
-
Guru dan Tantangan dalam Mendampingi Disiplin Murid: Hilangnya Rasa Hormat dan Kasus Kriminalisasi
Pendidikan adalah fondasi utama dalam pembentukan karakter dan peradaban bangsa. Salah satu elemen penting dalam sistem pendidikan adalah guru, yang memiliki peran ganda sebagai pengajar dan pendidik. Namun, seiring berjalannya waktu, dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tantangan besar, salah satunya adalah hilangnya rasa hormat siswa terhadap sosok guru. Fenomena ini semakin diperburuk dengan munculnya kasus kriminalisasi terhadap guru ketika mereka berusaha menegur atau menghukum siswa yang berperilaku buruk. Baca Juga : Kurang Fokusnya Kurikulum Pendidikan di Indonesia Terkait Kebutuhan Dunia Kerja Rasa hormat terhadap guru, yang dulunya menjadi nilai penting dalam pendidikan, kini semakin luntur di kalangan sebagian siswa. Berbagai faktor dapat menjelaskan fenomena ini. Salah satunya adalah perubahan dalam…
-
Guru dan Pengaruhnya dalam Membangun atau Menciptakan Model Karakter Siswa
Pendidikan adalah proses yang tidak hanya bertujuan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk karakter siswa menjadi individu yang memiliki nilai moral yang baik, tanggung jawab, dan kemampuan untuk beradaptasi dalam masyarakat. Salah satu elemen kunci yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter siswa adalah peran guru. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan yang memberikan arah dan pedoman dalam kehidupan sosial dan pribadi siswa. Oleh karena itu, pengaruh guru dalam membangun atau menciptakan model karakter siswa sangat besar, baik di dalam maupun di luar ruang kelas. Peran Guru sebagai Teladan Guru memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan siswa. Sebagai individu yang dihormati dan…
-
Pentingnya Menghargai Guru dalam Mendidik Generasi Masa Depan
Di tengah dinamika pendidikan yang terus berkembang, peran guru sebagai pendidik yang mendidik dan mencerdaskan anak-anak kita menjadi semakin vital. Namun, di balik tugas mulia ini, terdapat tantangan yang serius, termasuk kurangnya penghargaan dari siswa dan orang tua, serta adanya kasus kekerasan dan laporan hukum terhadap guru. Dalam konteks ini, sangat penting untuk menghargai guru dalam bentuk apapun, karena mereka menjalankan tanggung jawab yang tidak dapat diambil alih oleh sebagian besar orang tua. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian siswa. Mereka berperan sebagai mentor, fasilitator, dan pengarah, yang membantu siswa memahami dan menghadapi berbagai tantangan dalam hidup. Pendidikan yang diberikan oleh guru meliputi…

























