Gaji Buncit, Beban Buncit: Ngobrolin Keadilan Proyek Pendidikan
Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M, Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko Gedong Karanganyar)
Malam malam begini enaknya ngopi sambil ngobrolin hal-hal yang serius tapi dikemas santuy. Kita bahas soal proyek pendidikan aja yuk. Soalnya, belakangan ini panas tuh isu soal guru yang gajinya pas-pasan, tapi tiba-tiba ada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang gaji pegawai pengelolanya bikin mata merem melek. Nah, kita bedah yuk, timpangnya keadilan dalam pembagian gaji dan beban kerja antara guru dan para pegawai MBG. Jangan lupa bawa kopi, karena ini mungkin bakal seru.
Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Eh Gaji Ngenes
Pertama, coba liat para guru. Setiap hari mereka itu kayak superhero tanpa jubah. Mulai dari ngajar, bikin RPP yang super panjang, ngoreksi tugas, ngurusin administrasi, sampai jadi psikolog dadakan buat murid-murid yang mulai puber. Tanggung jawab mereka berat, bos. Mereka bukan cuma transfer ilmu, tapi juga transfer akhlak, kedisiplinan, dan kemampuan berpikir kritis. Coba bayangin, negara ini bakal jadi apa tanpa guru? Mungkin kita semua sekarang masih jadi tukang ketik naskah proklamasi dengan ngetik pake jari telunjuk sambil belepotan tinta.
Tapi apa balasannya? Gaji guru, khususnya honorer, seringkali cuma cukup buat beli kopi sasetan dan nasi kucing. Guru PNS pun gak seberapa besar dibanding beban kerjanya. Ironisnya, ketika ada proyek pendidikan raksasa seperti MBG, guru-guru ini tetep diminta terlibat aktif. Misalnya, mereka harus ngawasin distribusi makanan, memastikan murid-makan dengan tertib, bahkan kadang ikut jadi tim sukses ngecat dapur sekolah biar standar higienis. Beban mereka nambah, tapi gaji? Adakah tambahan? Adalah, mungkin cuma doa dari murid-murid yang kenyang. Oke sih, tapi doa gak bisa dibawa ke tukang sembako.
Pegawai MBG: Gaji Menggiurkan, Beban Juga Berat?
Nah, sekarang giliran pegawai MBG. Ini tuh posisi baru yang muncul karena program prioritas nasional. Mereka bertanggung jawab mulai dari logistik, perencanaan menu, distribusi, monitoring, evaluasi, sampai urusan ngecek apakah sayur wortelnya fresh atau layu. Tugasnya gak main-main, mengingat program ini targetnya nyampe ke puluhan juta anak di seluruh Indonesia. Bisa dibayangkan, keruwetan administrasi dan koordinasi lintas daerah itu luar biasa.
Tapi soal gaji, ini yang bikin guru mungkin ngetik surat pengunduran diri sambil menangis. Pegawai MBG, khususnya di tingkat pusat dan koordinator daerah, digaji dengan standar yang sangat kompetitif, bahkan ada yang nyentuh angka puluhan juta per bulan. Mereka dikasih tunjangan, transportasi, uang lembur, dan segala macam benefit yang bikin guru cuma bisa geleng-geleng kepala. Katanya sih, ini untuk menarik profesional terbaik di bidang gizi, logistik, dan manajemen. Oke, fair enough. Tapi apakah sebanding dengan guru yang juga profesional di bidang pedagogi, psikologi perkembangan, dan manajemen kelas?
Perbandingan Timpang: Siapa yang Lebih Vital?
Nah, mari kita timbang-timbang. Dari sisi tanggung jawab, guru bertanggung jawab pada masa depan bangsa. Kualitas SDM 20 tahun mendatang ada di tangan guru. Sementara pegawai MBG bertanggung jawab pada perut anak hari ini. Keduanya penting, tapi masa depan vs perut, jangan salah pilih. Perut kenyang itu penting, tapi kalo otak kosong karena gurunya stres mikirin gaji, ya hasilnya bisa jadi generasi yang kenyang tapi nggak pinter-pinter amat.
Dari sisi beban kerja, guru itu beban psikologisnya berat. Mereka harus ngadepin murid yang macem-macem, orang tua yang kadang resek, ditambah tuntutan administrasi yang nggak ada habisnya. Pegawai MBG beban logistiknya berat, tapi mereka bisa liburan di akhir pekan. Guru? Akhir pekan dipake buat ngoreksi tugas dan nyusun rapor.
Dari sisi keadilan, ini yang timpang abis. Kenapa proyek baru bisa memberikan gaji besar, sementara profesi lama yang udah terbukti vital gajinya minim? Seolah-olah negara ini lebih menghargai proyek jangka pendek yang efeknya instan daripada investasi jangka panjang lewat pendidikan yang digawangi guru.
Solusi ala Tongkrongan: Jangan Sampai Timpang Terus
Gini aja, Kalo memang MBG penting, kita nggak masalah pegawainya digaji besar. Tapi jangan lupa sama guru yang jadi ujung tombak pendidikan di kelas. Negara kudu berani menaikkan gaji guru secara drastis, minimal setara dengan pegawai MBG di level yang sama. Jangan sampe ada guru yang ngajar 3 sekolah cuma buat ngejar UMR.
Kedua, beban kerja guru harus dikurangi. Pegawai MBG itu ada banyak, jangan bebanin guru urusan administrasi MBG. Pisahkan tugas secara jelas. Guru cukup mengajar dan mengawasi asupan murid secara wajar, bukan jadi kuli logistik dadakan.
Ketiga, transparansi anggaran. Kita perlu tau, duit dari mana buat gaji pegawai MBG yang besar itu. Jangan sampe mengurangi anggaran buat kesejahteraan guru. Kalo perlu, potong anggaran perjalanan dinas dan rapat koordinasi yang suka di hotel mewah, lalu alihkan buat naikin gaji guru.
Jangan Jadi Pendidik yang Lapar
Jadi intinya, Pendidikan itu pondasi, gurunya pilar. Kalo pilarnya keropos karena gaji minim, pondasinya ambruk. Jangan sampai kita punya generasi yang kenyang karena MBG, tapi kosong isi kepalanya karena gurunya kelelahan mikirin utang. Keadilan itu bukan soal semua dapat sama rata, tapi soal semua mendapat sesuai beban dan tanggung jawab. Kalo pegawai MBG digaji besar, ya udah, gapapa. Tapi guru yang beban moral dan intelektualnya gak kalah berat, harusnya juga digaji besar. Gak usah pakai embel-embel “pahlawan tanpa tanda jasa”. Jadi pahlawan itu boleh, tapi tolong dengan gaji yang bisa bikin beli rumah, bukan cuma beli rokok satu bungkus.
Ya udah, segitu dulu curhatannya. Sekarang saya mau balik ngopi. Semoga para guru bisa ikut ngopi di kafe yang agak bagusan, bukan cuma di warung pinggir jalan. Ojo lali, terus perjuangkan keadilan, bro. Peace!


