Catatan Ringan

Guru di Era AI: Dari Panggung Depan ke Kursi Kemudi (dan Mungkin Juga Jadi Teknisi Lapangan)

Bayangkan sedang berada di kelas itu, akan tetapi sekarang, mari kita zoom out. Kelas itu cuma satu titik kecil dalam peta besar bernama Sistem Pendidikan Nasional. Sementara Pak Wahab sibuk jadi nahkoda dengan dashboard AI-nya, di luar sana ada Bu Fitri di pelosok Flores yang listriknya empat jam sehari, sinyal internet lebih langka dari air bersih. Lalu ada Pak Lukman, guru honorer di pinggiran Jakarta yang gajinya belum cukup buat beli tablet, apalagi berlangganan ChatGPT Plus. Dan tak ketinggalan, para orang tua yang bingung: “Anak saya kok PR-nya diskusi sama robot, saya sebagai orang tua harus ngapain dong?”

Nah, di sinilah obrolan kita jadi lebih seru. Isu guru vs AI itu bukan cuma soal “apakah robot akan gantikan guru?” Itu pertanyaan yang terlalu sederhana. Yang lebih penting adalah: “Dalam dunia yang semakin terbelah oleh teknologi, peran seperti apa yang harus diambil guru, dan dukungan seperti apa yang mereka butuhkan?”

Guru sebagai “Penyaring Budaya” di Tengah Banjir Informasi

AI itu seperti mesin penghasil konten raksasa. Ia bisa menghasilkan materi pembelajaran tentang apa saja, dari sudut pandang mana saja. Nah, tugas guru saat ini nggak sekedar hanya mengajar, tapi juga jadi “kurator dan penyaring budaya”.

Misalnya, ketika AI memberikan sepuluh versi cerita tentang G30SPKI, peran guru adalah memandu siswa untuk bisa membaca narasi-narasi itu dengan kritis: “Mengapa AI menghasilkan penekanan yang berbeda? Nilai apa yang terkandung dalam setiap versi? Mana yang sesuai dengan konteks keindonesiaan kita?”

Ini peran baru yang berat. Guru harus jadi jangkar di tengah banjir informasi yang bisa membawa siswa ke mana saja.

Dilema Digital: Ketika AI Memperlebar Jurang yang Sudah Ada

Kita harus jujur. Pembicaraan tentang AI dalam pendidikan sering kali elitis. Terlalu banyak webinar dengan narasi “Guru harus melek AI!”, tapi lupa bahwa infrastrukturnya tidak merata.

Realitanya, ada tiga lapisan guru di Indonesia:

1. Guru “Pioneer”: Sudah memakai AI untuk RPP, analisis data, bahkan buat konten pembelajaran interaktif. Biasanya di kota besar atau sekolah dengan fasilitas memadai.

2. Guru “Survivor”: Tahu AI, ingin mencoba, tapi terkendala fasilitas dan pelatihan. Mereka masih berjuang dengan hal dasar seperti proyektor yang rusak atau quota internet yang terbatas.

3. Guru “Tertinggal”: Bahwa ada ChatGPT saja mungkin belum tahu. Fokus mereka masih pada bagaimana mengajar dengan buku yang halamannya sudah sobek, atau menghadapi siswa yang masuk sekolah tanpa sarapan.

Cerita sukses Bu Sari di Bandung itu inspiratif, tapi jangan sampai membuat kita buta bahwa bagi banyak guru, pertanyaannya bukan “Bagaimana memanfaatkan AI?” melainkan “Bagaimana bertahan mengajar dengan kondisi yang ada?”

Revolusi Hubungan: Guru-Orang Tua-Siswa dalam Ekosistem AI

Ini aspek yang sering terlupakan. Dulu, hubungan segitiga ini relatif sederhana. Sekarang, dengan kehadiran AI, dinamikanya berubah total.

Orang tua sekarang bisa bertanya ke AI: “Jelaskan teori relativitas untuk anak SMP!” Lalu mereka datang ke guru: “Pak, katanya AI menjelaskan begini, kenapa penjelasan Bapak berbeda?”

Siswa yang cerdas akan menggunakan AI untuk “menguji” gurunya: “Bu, menurut ChatGPT jawabannya A, kenapa Bu guru bilang B?”

Dalam situasi ini, guru perlu “kecerdasan baru”: bukan hanya menguasai materi, tapi juga mampu menjelaskan “proses berpikir” di balik suatu jawaban. Guru harus jadi fasilitator dialog antara manusia dan mesin, sekaligus wasit yang adil.

Masa Depan yang Personal: Ketika AI Menjadi “Asisten Pribadi” Setiap Siswa

Ini peluang terbesar sekaligus tantangan terberat. Bayangkan jika setiap siswa punya AI tutor pribadi yang mengenal gaya belajarnya, kekuatannya, dan kelemahannya. Peran guru kemudian akan bergeser drastis atau justru peran guru akan hilang:

Diagnostician: Menganalisis data dari interaksi siswa-AI untuk mengidentifikasi masalah mendalam

Motivator Personal: Memberikan dorongan emosional yang tidak bisa diberikan mesin

Desainer Pengalaman: Menciptakan proyek-proyek kolaboratif yang memanfaatkan keunikan setiap siswa

Tapi ini berisiko mengubah kelas menjadi kumpulan individu yang terisolasi dengan AI-nya masing-masing. Di sinilah guru harus menjaga “api pembelajaran kolektif” tetap menyala. Tetap perlu diskusi kelas, debat, kerja kelompok yang mengasah kecerdasan sosial.

Etika: Garis Tipis Antara Bantuan dan Kecurangan

Ini adalah wilayah abu-abu yang paling seru. Suatu hari ada seorang guru bercerita: “Saya tahu siswa saya menggunakan AI untuk ngerjain tugas. Tapi ketika saya tanya prosesnya, mereka juga bisa menjelaskan dengan brilliant. Jadi, ini kecurangan atau kolaborasi?”

Beberapa sekolah mulai membuat “Perjanjian Penggunaan AI” bersama siswa. Isinya bisa seperti:

– “Boleh pakai AI untuk brainstorming ide, tapi harus disebutkan prompt yang digunakan”

– “Dilarang hanya copy-paste, harus ada proses editing dan pemikiran sendiri”

– “Diskusikan dengan guru jika ragu apakah penggunaan AI-mu termasuk etis”

Guru sekarang memposisikan diri sebagai “filsuf digital” yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum ada di buku pedoman.

Guru akan Tetap Ada, Tapi Wajahnya akan Berubah

Jadi, apakah guru akan tergantikan? Sama seperti kalkulator tidak menggantikan guru matematika, AI tidak akan dapat menggantikan guru. Akan tetapi guru yang hanya bisa menyampaikan fakta-fakta akan terasa seperti radio tua di era Spotify.

Masa depan adalah “guru sebagai konduktor ekosistem pembelajaran” yang terdiri dari manusia, teknologi, dan nilai-nilai. Mereka akan lebih mirip pelatih tim sepak bola, tidak perlu lari lebih cepat dari pemain, tapi tahu strategi terbaik, mengenal kelemahan dan kekuatan setiap anggota, dan yang paling penting bisa membangun semangat tim.

Yang perlu dikhawatirkan sebenarnya bukanlah AI-nya, akan tetapi kesiapan sistem kita. Apakah pelatihan guru sudah menyentuh aspek kurasi digital?

Apakah kurikulum memberi ruang untuk diskusi etika teknologi?

Apakah kebijakan pendidikan mempertimbangkan kesenjangan digital?

Pada akhirnya obrolan tentang guru dan AI membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam: “Pendidikan seperti apa yang kita inginkan untuk anak-anak kita?” Yang efisien dengan bantuan mesin, atau yang manusiawi dengan sentuhan guru? Jawabannya mungkin kita ingin keduanya. Hanya saja untuk mencapai itu semua, kita perlu mulai serius mempersiapkan guru-guru kita bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, tapi sebagai pemimpin pembelajaran di era yang semakin kompleks ini.

Guru terbaik di era AI mungkin adalah bukan yang paling jago coding, tapi yang paling paham manusia. Karena di akhir hari nanti, mesin paling canggih pun tidak bisa menggantikan senyuman lega seorang guru ketika melihat muridnya akhirnya paham, atau pelukan hangat ketika seorang siswa berhasil melewati masa sulitnya. Teknologi datang dan pergi, tetapi kebutuhan manusia akan hubungan, pengakuan, dan bimbingan yang tulus itu akan tetap ada selamanya.

Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M. Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko Gedong Karanganyar)

Komentar Dinonaktifkan pada Guru di Era AI: Dari Panggung Depan ke Kursi Kemudi (dan Mungkin Juga Jadi Teknisi Lapangan)