-
ULD Kemenag: Niat Mulia, Persiapan Merangkak, Dampaknya….?
Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M. Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko, Gedong, Karanganyar) Halo, Sobat Pendidikan! Kali ini kita mau ngobrol santai soal program ULD dari Kemenag. ULD itu singkatan dari Unit Layanan Disabilitas, sebuah program yang bertujuan membangun sekolah-sekolah inklusi di lingkungan Kementerian Agama. Niatnya mulia banget, karena setiap anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, punya hak yang sama buat belajar. Tapi, masalah muncul ketika program ini udah dilaksanakan, sementara kesiapan sarana prasarana, sumber daya manusia (SDM), dan anggarannya masih kayak kabut di pagi hari yang nggak jelas wujudnya. Sarpras: Antara Harapan dan Kenyataan Bayangin, sebuah sekolah yang ditunjuk jadi penyelenggara ULD tiba-tiba dapat “tugas mulia” buat menerima siswa…
-
PGRI vs MBG: Ketika Serikat Guru Harus Memilih Antara Anggota dan Kebijakan
Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M. Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko Gedong Karanganyar) Sebuah Pagi yang Penuh Tanda Tanya Bayangkan disuatu pagi, Bu Isti (Ketua PGRI Kabupaten Rembang) sedang memegang roti. Bukan roti biasa, tapi roti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan jadi sorotan karena ditemukan berjamur di sekolah-sekolah. Tersungging senyum pahit di wajahnya. Di satu sisi, ia sangat mendukung penuh program ini. Di sisi lain, sebagai pemimpin serikat guru, ia tahu betul bahwa di dapur-dapur MBG, ada 32.000 orang yang akan diangkat jadi PPPK (sementara 700.000 guru honorer anggotanya masih bergaji di bawah Rp2 juta). Inilah dilema yang sedang dihadapi PGRI saat ini. Sebuah organisasi profesi tertua…
-
Merdeka Belajar vs Beban Administrasi: Antara “Kemerdekaan” dan “Kertas yang Tak Kunjung Merdeka” #2
Kopi Pahit di Pagi Buta Jam menunjukkan pukul 04.30. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran Lombok Barat, Fauziah sudah bangun. Bukan karena ingin menikmati udara subuh yang sejuk, akan tetapi karena harus menyiapkan diri untuk mengajar di SDN 2 Senteluk, sekolah yang sudah menjadi rumah keduanya sejak tahun 2005. Dua puluh satu tahun. Itu adalah angka yang tidak main-main. Dua puluh satu tahun mengabdi, membentuk karakter ribuan anak, menyaksikan murid-muridnya tumbuh jadi polisi, jadi perawat, jadi guru juga. Dan selama dua puluh satu tahun itu, statusnya masih sama: “guru honorer” . Di meja dapurnya, ada secangkir kopi hitam panas yang menemani. Tetapi pagi ini, kopi itu seolah terasa lebih pahit…
-
Dari Warung Kopi ke Panggung Kebijakan: Melacak Jejak “Keterlibatan” yang Hilang
Bayangkan lagi kita di warung kopi yang sama, mungkin kopi kedua sudah datang, dan obrolan tentang pernyataan pejabat Kemenag itu mulai meluas. Rasanya seperti membuka satu lapisan bawang, ternyata ada lapisan lagi di bawahnya. Pernyataan itu bukan cuma soal guru dan yayasan; itu adalah pintu masuk untuk melihat bagaimana sebuah sistem besar, bernama “pendidikan agama”, kadang berjalan dengan dua logika yang bertolak belakang. Logika Pertama: Logika Administratif yang Dingin. Di sini, segala sesuatu dikotak-kotakkan. “Kami hanya mengurus yang di bawah payung hukum kami secara langsung.” Guru negeri? Itu urusan kami. Guru swasta yang diangkat yayasan? Itu “urusan internal yayasan”. Dalam logika ini, keterlibatan diukur dari selembar kertas pengangkatan dan daftar…
-
Memanusiakan Pendidikan: Mengapa “Tidak Naik Kelas” Bukan Sebuah Kegagalan
Di balik deretan angka di atas kertas rapor, tersimpan sebuah realita yang sering kali kita tutupi dengan rapi. Saat ini, dunia pendidikan kita sedang terjebak dalam obsesi “kesuksesan administratif”. Kita sering menjumpai siswa SMP atau SMA yang secara administratif sudah berada di kelas atas, namun secara substansi masih tertatih-tatih mengeja kalimat atau bingung melakukan pembagian dasar. Demi nama baik sekolah dan gengsi guru, nilai-nilai “disulap” agar melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Namun, pertanyaannya: apakah kita sedang menyelamatkan masa depan mereka, atau justru sedang menghancurkannya pelan-pelan? Menjual Masa Depan Demi Citra Institusi Praktik memaksakan kenaikan kelas bagi siswa yang belum siap adalah sebuah kebohongan yang sistemis. Ketika sekolah merasa malu jika…
-
Urgensi Penerapan Kurikulum Adab di Madrasah dan Sekolah: Refleksi atas Kegagalan Kurikulum Merdeka dalam Pembentukan Karakter Pasca COVID-19
Pendidikan adalah fondasi utama dalam membentuk karakter dan kepribadian generasi muda. Dalam konteks Indonesia, pendidikan seharusnya tidak hanya fokus pada penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pada pembinaan akhlak dan adab yang luhur. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, terutama pasca pandemi COVID-19, tampak jelas bahwa sistem pendidikan nasional, termasuk implementasi Kurikulum Merdeka, belum berhasil sepenuhnya dalam membentuk karakter peserta didik. Di tengah euforia kebebasan belajar dan pengembangan minat individu, kita justru menghadapi krisis akhlak yang semakin mengkhawatirkan. Di sinilah pentingnya gagasan penerapan “kurikulum adab” sebagai bagian utama dari sistem pendidikan nasional. Kurikulum ini tidak hanya diperlukan di madrasah yang berbasis Islam, tetapi juga di seluruh sekolah formal, sebagai…
-
Upaya Bangsa Indonesia Mencerdaskan Kehidupan Bangsa melalui Pendidikan: Ketidaksesuaian dengan Kebijakan Efisiensi Anggaran di Kementerian Agama
Pendidikan merupakan salah satu tujuan nasional Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang menyatakan bahwa salah satu tujuan negara adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya pendidikan dalam pembangunan bangsa dan kemajuan suatu negara. Pendidikan yang berkualitas dan merata merupakan hak setiap warga negara, tanpa terkecuali, untuk menciptakan sumber daya manusia yang kompeten, berbudi pekerti luhur, serta mencintai tanah air. Sebagai lembaga yang memiliki peran strategis dalam dunia pendidikan di Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola pendidikan agama dan madrasah. Namun, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan dalam Kemenag terkadang berseberangan dengan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang seharusnya diprioritaskan.…
-
Suramnya Masa Depan Pendidikan di Indonesia: Dampak dari efisiensi Anggaran Negara (Belajar dari Jepang Pasca-Bom Atom)
Pendidikan adalah kunci utama dalam pembangunan suatu bangsa. Kualitas pendidikan yang baik mampu mencetak generasi yang kompeten, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Namun, di Indonesia, masa depan pendidikan kini menghadapi tantangan besar, terutama dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran negara yang turut mengurangi alokasi dana untuk sektor pendidikan. Kebijakan ini berdampak buruk pada kualitas pendidikan dan akses yang tidak merata, terutama di daerah-daerah terpencil. Namun, untuk memahami lebih dalam mengenai dampak kebijakan ini, kita bisa melihat sebuah contoh yang sangat kontras namun memberikan pelajaran berharga: Jepang setelah peristiwa Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki. Pada saat itu, Jepang mengalami kehancuran total. Infrastruktur hancur, ekonomi runtuh, dan ribuan jiwa melayang. Namun,…
-
Guru dan Tanggung Jawab Moral terhadap Masa Depan Bangsa dalam Menyikapi Kurikulum Merdeka
Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun masa depan sebuah bangsa. Salah satu pilar penting dalam pendidikan adalah peran guru. Sebagai pendidik, guru tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk karakter dan moral generasi penerus. Dalam konteks Indonesia, saat ini kita tengah menghadapi perubahan besar dalam sistem pendidikan dengan diterapkannya Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menawarkan fleksibilitas dan pendekatan yang lebih kontekstual untuk mengembangkan potensi siswa. Namun, perubahan ini juga membawa tantangan besar bagi para guru untuk dapat mengimplementasikan kurikulum tersebut secara efektif, sembari tetap menjaga tanggung jawab moral mereka terhadap masa depan bangsa. Tanggung jawab moral guru dalam menyikapi Kurikulum Merdeka menjadi sangat penting, karena merekalah…
-
Hilangnya Keterampilan Dasar pada Anak Sekolah dan Kurikulum Pendidikan yang Tepat untuk Mengatasinya
Di era digital ini, kita sering kali dihadapkan pada fakta bahwa anak-anak sekolah semakin terjebak dalam teknologi yang canggih. Hal ini membawa dampak positif seperti kemudahan akses informasi, namun juga memiliki sisi negatif, yaitu hilangnya keterampilan dasar (basic skills) yang esensial dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan dasar yang dimaksud meliputi kemampuan membaca, menulis, berhitung, berpikir kritis, dan keterampilan sosial. Penyusunan kurikulum pendidikan yang tepat sangat penting untuk mengatasi masalah ini dan membekali generasi muda dengan keterampilan yang mereka butuhkan untuk sukses di masa depan. Hilangnya Keterampilan Dasar Salah satu tanda hilangnya keterampilan dasar pada anak sekolah adalah penurunan kemampuan membaca dan menulis. Anak-anak semakin jarang membaca buku atau menulis dengan tangan…












