-
Merdeka Belajar vs Beban Administrasi: Antara “Kemerdekaan” dan “Kertas yang Tak Kunjung Merdeka” #2
Kopi Pahit di Pagi Buta Jam menunjukkan pukul 04.30. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran Lombok Barat, Fauziah sudah bangun. Bukan karena ingin menikmati udara subuh yang sejuk, akan tetapi karena harus menyiapkan diri untuk mengajar di SDN 2 Senteluk, sekolah yang sudah menjadi rumah keduanya sejak tahun 2005. Dua puluh satu tahun. Itu adalah angka yang tidak main-main. Dua puluh satu tahun mengabdi, membentuk karakter ribuan anak, menyaksikan murid-muridnya tumbuh jadi polisi, jadi perawat, jadi guru juga. Dan selama dua puluh satu tahun itu, statusnya masih sama: “guru honorer” . Di meja dapurnya, ada secangkir kopi hitam panas yang menemani. Tetapi pagi ini, kopi itu seolah terasa lebih pahit…
-
Merdeka Belajar vs Beban Administrasi: Antara “Kemerdekaan” dan “Kertas yang Tak Kunjung Merdeka” #1
Sebuah Pagi yang Sibuk Sebagai Gambaran Awal Jam menunjukkan pukul 07.15. Bu Riza sudah berada di sekolah sejak satu jam lalu. Bukan untuk menyiapkan materi pelajaran yang akan ia sampaikan tiga jam lagi, akan tetapi untuk menyelesaikan laporan pelaksanaan pembelajaran, mengisi platform kinerja, dan merapikan dokumentasi kegiatan kokurikuler yang fotonya belum dicantumkan. Di mejanya, secangkir kopi hitam pekat tampak masih belum sempat tersentuh. Sementara itu Pak Lukman, seorang guru honorer yang bertugas di sebuah SD negeri pinggiran Jakarta, sedang sibuk menyusun modul ajar untuk tiga mata pelajaran berbeda (yang sebenarnya bukan bidangnya). Karena sekolah kekurangan guru, ia harus mengampu Olah Raga meskipun ijazahnya adalah Pendidikan Pendidikan Bahasa Inggris. Di sela-sela…
-
Latar Belakang Kurikulum Merdeka
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa 70% siswa berusia 15 tahun berada di bawah kompetensi minimum dalam memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika dasar. Skor PISA ini tidak mengalami peningkatan yang signifikan dalam sepuluh hingga lima belas tahun terakhir. Studi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan besar antarwilayah dan antarkelompok sosial-ekonomi dalam hal kualitas belajar. Hal ini diperparah dengan adanya pandemi COVID-19. Untuk mengatasi hal tersebut, Kemendikbudristek melakukan penyederhanaan kurikulum dalam kondisi khusus (kurikulum darurat) untuk memitigasi ketertinggalan pembelajaran (learning loss) pada masa pademi. Hasilnya, dari 31,5% sekolah yang menggunakan kurikulum darurat menunjukkan, penggunaan kurikulum darurat dapat mengurangi dampak pandemi sebesar 73% (literasi) dan 86% (numerasi). Efektivitas kurikulum…
-
Optimalisasi Peran Guru Penggerak Dalam Merdeka Belajar
Salah satu program unggulan yang sangat dibanggakan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi adalah program guru penggerak. Hal itu dibuktikan dengan masuknya program guru penggerak kedalam kebijakan merdeka belajar. Dilansir dari laman detikedu (17/9/2022), Nadiem Makarim selaku menteri Kemendikbudristek mengungkapkan program kebanggaannya tersebut dalam pemaparannya di New York University (NYU) pada September lalu. Ia mengungkapkan bahwa tujuan dari adanya guru penggerak adalah untuk menciptakan pemimpin pembelajaran yang berpusat pada murid. Dari program guru penggerak, guru akan diajarkan mengenai kepemimpinan hingga management. Agar menjadi bagian dari guru penggerak, guru wajib mengikuti pendidikan selama kurang lebih enam bulan. Nantinya peserta yang lolos program guru penggerak akan mendapatkan beberapa keuntungan, salah satu…











