Masalah Darurat Literasi dan Numerasi Menjelang UAS
Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M. Pd (Kepala MI AL AMIN Sinongko Gedong Karanganyar)
Bulan ini, suasananya agak berbeda di sekolah-sekolah dasar. Para guru sibuk mengoreksi tugas, orang tua mulai panik membeli buku latihan soal, dan anak-anak kelas 1 sampai 5 mulai menunjukkan ekspresi yang beragam. Ada yang santai, ada yang mulai gelisah, dan ada juga yang mungkin masih bingung kenapa harus ujian.
Tapi di balik hiruk-pikuk persiapan ujian akhir semester ini, ada satu kenyataan yang cukup mengkhawatirkan: kondisi darurat literasi dan numerasi yang masih melanda adik-adik kita. Seperti apa sih, gambaran “darurat” ini menjelang UAS?
Gambaran 1: Pagi Hari di Rumah Seorang Bocah Kelas 3
“Adik, coba baca soal nomor 1,” kata seorang ibu dengan sabar.
“Ayah… Budi… me… me… melempar… bola… ke… dalam… ker… ker…?” anak itu terbata-bata.
“Keranjang, Nak.”
“Iya, keranjang.”
“Lalu pertanyaannya: siapa yang melempar bola?”
Diam. Anak itu membaca ulang kalimat pertama dari awal, perlahan-lahan. Butuh waktu 45 detik untuk sampai di kata “Budi”. “Budi, Bu,” jawabnya dengan lega.
Ibunya tersenyum tipis, meskipu di dalam hatinya bertanya-tanya: Anakku kelas 3 SD, tapi membaca kalimat sederhana masih seperti ini. Bagaimana nanti dengan soal cerita matematika?
Inilah potret darurat literasi. Bukan berarti anak-anak kita bodoh. Mereka cerdas, lincah, bahkan jago main game di H, akan tetapi kemampuan membaca pemahaman mereka yang seharusnya menjadi fondasi untuk belajar apa pun masih sangat lemah.
Gambaran 2: Warung Sembako dan Hitung-hitungan Kembalian
Cerita lain datang dari Bu RT, yang cerita kalau anaknya yang kelas 4 dimintai tolong belanja ke warung. Belanjaannya: mi instan 3 bungkus (@Rp3.000) dan telur 4 butir (@Rp2.000). Anak itu memberikan uang Rp20.000.
“Kak, hitung dulu, berapa kembaliannya?”, kata pemilik warung yang baik hati.
Anak itu mulai berhitung dengan jari. Lalu mengulang dari awal. Lalu bingungsendiri. Akhirnya bilang, “Tiga belas ribu, Pak?”
“Coba hitung: (3×3.000) + (4×2.000) = 9.000 + 8.000 = 17.000. Kembaliannya Rp3.000. Selisihnya jauh, kan?”, terang pemilik warung.
Inilah darurat numerasi. Bukan karena anaknya tidak pintar, tapi karena proses belajar matematika sering kali hanya menghafal rumus dan angka, tanpa pernah benar-benar membayangkan angka-angka itu sebagai sesuatu yang nyata, yang bisa dipakai dalam hidup sehari-hari.
Tapi Kenapa Ini Baru Terasa Menjelang UAS?
Nah, pertanyaan bagus. Sepanjang semester, mungkin banyak guru dan orang tua yang sudah “menerima” kondisi ini. Anak belum lancar membaca? Ya, mungkin dia tipe yang lambat. Anak masih pakai jari untuk penjumlahan? Ya, nanti juga lancar sendiri.
Namun menjelang UAS, semuanya jadi terasa. Soal ujian biasanya dirancang dengan asumsi bahwa anak sudah mencapai kompetensi tertentu. Padahal faktanya, di lapangan, kompetensi dasar literasi dan numerasi saja belum sepenuhnya tercapai.
Hasil Asesmen Nasional 2023 misalnya, masih menunjukkan bahwa sekitar 70% siswa di jenjang SD belum mencapai kompetensi minimum literasi. Untuk numerasi, angkanya juga nggak jauh beda. Artinya, dari 10 anak kelas 5, mungkin 7 di antaranya masih kesulitan memahami bacaan sederhana atau menyelesaikan soal matematika dasar.
Yang Paling Kasihan: Anak Kelas 1 dan 2
Kondisi ini paling terasa bagi adik-adik kelas 1 dan 2. Bayangkan, mereka baru saja melewati masa pandemi yang mengganggu proses belajar mereka di usia-usia kritis. Banyak dari mereka yang seharusnya di kelas 1 belajar huruf, justru harus belajar dari rumah dengan segala keterbatasan.
Sekarang, mereka sudah naik ke kelas 2 atau bahkan kelas 3, tapi kemampuan membaca mereka masih seperti anak kelas 1. Dan tiba-tiba harus menghadapi ujian akhir semester dengan soal-soal yang penuh dengan teks bacaan panjang.
Bukan salah mereka. Ini adalah efek domino dari gangguan pembelajaran yang kita alami bersama.
Suasana Menjelang UAS: Campur Aduk
Lalu bagaimana suasana menjelang UAS sekarang?
Di sekolah: Guru-guru kewalahan. Harus mengajar materi semester ini, sekaligus “mengejar ketertinggalan” literasi numerasi. Jam pelajaran terasa kurang. Bimbingan belajar diadakan sepulang sekolah. Lembar kerja menumpuk di meja guru.
Di rumah: Orang tua mulai mengorbankan waktu istirahat untuk mengajari anak. Banyak yang frustrasi karena anaknya cepat lelah kalau disuruh membaca. “Kok adik nggak bisa-bisa sih?”, namun di sisi lain, orang tua juga nggak sepenuhnya paham metode mengajar yang tepat untuk anak seusia ini.
Di hati anak: Mereka stres, tapi tidak tahu cara mengekspresikannya. Ada yang jadi pendiam, ada yang jadi rewel, ada yang pura-pura sakit perut setiap pagi menjelang ujian, dan ada yang malah makin asyik main game karena itu satu-satunya tempat mereka merasa “pintar” dan “menang.”
Bukan Berarti Nggak Ada Harapan
Jujur, kondisi darurat ini memang serius. Tapi bukan berarti nggak ada harapan.
Beberapa sekolah sudah mulai melakukan pendekatan yang lebih bijak. Misalnya:
– Soal ujian dibuat lebih sederhana, tidak berbelit-belit, dan mengutamakan pengukuran kompetensi dasar.
– Ada afirmasi khusus bagi anak yang masih sangat lemah membaca, misalnya dengan mendampingi mereka saat membaca soal.
– Remedial tidak lagi dianggap hukuman, tapi menjadi bagian proses belajar yang wajar.
Yang lebih penting: banyak orang tua dan guru mulai sadar bahwa ujian bukanlah segalanya. Bahwa anak yang belum lancar membaca di kelas 3, bukan berarti gagal seumur hidup. Bahwa numerasi bisa dipelajari lewat masak, berbelanja, atau main monopoli, tidak harus selalu lewat lembar soal.
Pesan Santai di Penghujung Semester
Jadi, buat adik-adik kelas 1 sampai 5: tenang saja. Ujian itu cilaik kok. Kerjakan sebisamu. Nggak apa-apa kalau masih pakai jari untuk menghitung. Nggak apa-apa kalau baca soalnya harus tiga kali baru paham. Yang penting kamu sudah berusaha.
Buat orang tua: mari kita sedikit melongokkan standar. Darurat literasi numerasi bukan karena anak kita bodoh. Ini masalah sistemik yang butuh waktu untuk dibenahi. Sembari memperjuangkan perbaikan di tingkat kebijakan, kita bisa dampingi anak dengan sabar. Nggak perlu marah-marah. Bacakan cerita sebelum tidur, ajak dia menghitung belanjaan di supermarket, itu sudah sangat membantu.
Buat para guru: terima kasih, perjuangan Bapak Ibu luar biasa. Semoga sistem penilaian nggak hanya memandang angka, tapi juga proses dan usaha. Dan semoga Bapak Ibu tetap sehat meskipun harus mengoreksi tumpukan tugas sambil menikmati dulu MBG nya
Menjelang ujian akhir semester di tengah darurat literasi dan numerasi ini, yang paling kita butuhkan bukanlah target tinggi yang membebani, melainkan kesabaran kolektif dan inovasi kecil sehari-hari untuk menumbuhkan kemampuan dasar pada anak.
Karena pada akhirnya, ujian semester ini akan berlalu. Tapi kemampuan membaca dan berhitung yang kokoh akan menemani mereka seumur hidup. Mari jadikan masa persiapan UAS ini sebagai momen untuk membangun fondasi, bukan hanya mengejar nilai.
Salam hangat dari meja belajar yang sedikit berantakan, tetap sruput kopinya ya…keburu dingin!!


