Catatan Ringan

Mendidik Anak Berarti Mendidik Diri Sendiri

Ada pepatah mengatakan bahwa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Itu berarti perilaku atau sikap anak tidak jauh dari perilaku orang tuanya.

Seburuk apa pun masa lalu kita dahulu, sebagai orang tua, kita tentu menginginkan anak-anak mempunyai kehidupan yang lebih baik dari kita. Artinya, setelah menjadi orang tua, kitalah orang yang seharusnya belajar lebih dahulu.

Menjadi orang tua adalah pelajaran seumur hidup. Pelajaran yang akan kita dapatkan bukan hanya dari buku bacaan, tetapi juga dari pengalaman, baik pengalaman diri sendiri maupun orang lain.

Setelah menjadi orang tua, kita belajar lagi bagaimana duduk dengan baik, bicara yang sopan, makan dengan tenang, dan lain sebagainya. Kita juga harus belajar bagaimana cara meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk sebelum menjadi orang tua.

Hal yang kita pelajari pun sering kali sederhana, ringan, tetapi juga sulit dilakukan. Misalnya, saat ingin mengajarkan anak untuk suka membaca, kita tidak cukup hanya memfasilitasinya buku bacaan yang bagus. Kita harus dengan sabar menemaninya, membacakan buku untuknya, mendengarkan pendapatnya, dan mendukungnya.

Anda harus ingat bahwa anak adalah seorang peniru yang ulung. Pelajaran apa pun yang ingin diajarkan, kitalah yang perlu memulainya lebih dahulu. Kita tidak bisa mendiktekan sesuatu kepada anak, sementara kita sibuk dengan gadget. Kita, orang tuanya, harus dengan sabar mencontohkannya. Karena contoh langsung dari orang tua jelas lebih bagus dari seribu kata-kata perintah atau nasihat.

Sebuah kutipan dari Robert Fulghum menyebut  “Don’t worry that children never listen to you; worry that they are always watching you.” . Ya, anak-anak tidak “mendengarkan” apa yang kita –orang tuanya– katakan itu hal wajar dan biasa. Tetapi, kita harus selalu ingat bahwa anak-anak selalu memperhatikan segala hal yang kita lakukan. Kemudian mereka akan mencontohnya.

Orang tua adalah orang pertama yang “dilihat” oleh anak. Dari merekalah anak belajar tentang banyak hal. Pendidikan dari orangtua pun menjadi yang pertama kali anak dapatkan. Ini cukup untuk mengartikan bahwa orangtua memang panutan utama si kecil.

Jika kita menginginkan anak-anak kita untuk tumbuh dengan pemikiran-pemikiran yang positif, maka mari kita belajar untuk berbicara kepada mereka dengan pemikiran-pemikiran yang positif tentang berbagai hal. Ajak mereka untuk melihat suatu kejadian buruk bukan hanya dari satu sisi negatif saja.

Jika kita berharap anak kita menjadi anak yang lembut hati dan punya rasa empati, mari kita mulai dari diri sendiri. Biarkan mereka belajar tentang empati dari kita, bukan hanya dari pelajaran di teks sekolah.

Jika kita ingin menanamkan sifat tidak mudah menyerah pada diri anak, mari kita miliki dulu “bibitnya” dalam diri kita. Kita harus lebih dulu tidak mudah menyerah, terutama dengan anak-anak kita seberapapun berat tantangan kita untuk membesarkan mereka. Dari situ mereka akan punya bibit pantang menyerah yang kita wariskan untuk ditanam dan tumbuh dalam diri mereka kelak.

Menjadi orang tua pun menuntut kita untuk bersikap sabar. Sikap yang mudah sekali diucapkan tetapi sangat sulit dilakukan. Sebagai orang tua baru yang masih sering bersikap egois, kita kadang lupa untuk mempertimbangkan sudut pandang anak.

Ketika menghadapi anak, seringkali kita dihadapkan pada situasi yang tak terduga. Bagaimana cara kita menangani situasi yang tak terduga tersebut? Selain dengan belajar banyak-banyak dari berbagai sumber ilmu, kita juga harus belajar untuk tidak mudah panik saat menghadapi tantangan pola asuh.

Kutipan bermakna dari dari Joyce Maynard berikut  ini sepatutnya terus kita ingat sebagai bekal menjadi orang tua.

It’s not only children who grow. Parents do too. As much as we watch to see what our children do with their lives, they are watching us to see what we do with ours. I can’t tell my children to reach for the sun. All I can do is reach for it, myself.”

45 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.