-
Gaji Buncit, Beban Buncit: Ngobrolin Keadilan Proyek Pendidikan
Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M, Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko Gedong Karanganyar) Malam malam begini enaknya ngopi sambil ngobrolin hal-hal yang serius tapi dikemas santuy. Kita bahas soal proyek pendidikan aja yuk. Soalnya, belakangan ini panas tuh isu soal guru yang gajinya pas-pasan, tapi tiba-tiba ada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang gaji pegawai pengelolanya bikin mata merem melek. Nah, kita bedah yuk, timpangnya keadilan dalam pembagian gaji dan beban kerja antara guru dan para pegawai MBG. Jangan lupa bawa kopi, karena ini mungkin bakal seru. Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Eh Gaji Ngenes Pertama, coba liat para guru. Setiap hari mereka itu kayak superhero tanpa jubah. Mulai…
-
PGRI vs MBG: Ketika Serikat Guru Harus Memilih Antara Anggota dan Kebijakan
Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M. Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko Gedong Karanganyar) Sebuah Pagi yang Penuh Tanda Tanya Bayangkan disuatu pagi, Bu Isti (Ketua PGRI Kabupaten Rembang) sedang memegang roti. Bukan roti biasa, tapi roti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan jadi sorotan karena ditemukan berjamur di sekolah-sekolah. Tersungging senyum pahit di wajahnya. Di satu sisi, ia sangat mendukung penuh program ini. Di sisi lain, sebagai pemimpin serikat guru, ia tahu betul bahwa di dapur-dapur MBG, ada 32.000 orang yang akan diangkat jadi PPPK (sementara 700.000 guru honorer anggotanya masih bergaji di bawah Rp2 juta). Inilah dilema yang sedang dihadapi PGRI saat ini. Sebuah organisasi profesi tertua…
-
Satu Kantong, Dua Prioritas: Mencerdaskan Otak atau Mengenyangkan Perut dengan Anggaran yang Sama?
Oleh : Mahar Alamsyah Santosa, M. Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko, Gedong, Karanganyar) Ketika Anggaran Pendidikan Bercerita Bayangkan saat ini anda punya dompet yang isinya Rp769 ribu, cukup banyak untuk ukuran dompet harian. Akan tetapi ada dua kebutuhan yang harus dipenuhi membeli buku untuk anak dan membeli makanan untuk seluruh keluarga. Keduanya penting, namun uangnya cuma satu. Nah, kurang lebih itulah potret anggaran pendidikan Indonesia tahun 2026. Pemerintah mengalokasikan Rp769 triliun untuk sektor pendidika, angka yang memenuhi amanat konstitusi 20 persen dari APBN . Tapi ketika kita membuka rinciannya, ada kejutan besar Rp223,56 triliun atau hampir 30 persen dari total anggaran pendidikan ternyata dialokasikan untuk Badan Gizi Nasional (BGN),…
-
Politik Perut di Ruang Kelas: Antara Komitmen Konstitusi dan Realisasi Janji Kampanye
Penulis : Mahar Alamsyah Santosa, M. Pd. (Kepala MI AL AMIN Sinongko Gedong Karanganyar) Ketika Janji Kampanye Bertemu Ruang Kelas Sejenak membayangkan suatu pagi di sebuah sekolah dasar. Anak-anak berbaris dengan rapi, bukan untuk upacara, namun untuk menerima sebuah kotak berisi makanan bergizi. Ada senyum yang merekah bahagia di wajah mereka. Di sisi lainnya, para guru sibuk mendata, mengawasi distribusi, memastikan tidak ada yang tertinggal, sementara di Jakarta, para pejabat sibuk menghitung angka: Rp335 triliun anggaran, 82,9 juta penerima manfaat, serta ribuan dapur umum . Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu janji kampanye paling gemerlap dalam Pilpres 2024. Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mengusungnya sebagai program unggulan,…
-
Dilema Piring dan Buku: Menimbang Program Makan Bergizi Gratis dalam Dompet Pendidikan
Ketika Negara Datang dengan Kotak Makan Bayangkan sejenak, sebuah ruang kelas di pelosok Nusa Tenggara Timur. Pagi itu, seperti biasa, anak-anak datang dengan perut kosong, kecuali segelas air putih dari rumah. Konsentrasi mereka buyar sebelum bel pertama berbunyi, kemudian tiba-tiba negara hadir, bukan membawa buku paket baru atau memperbaiki atap bocor, akan tetapi membawa “kotak makan”. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan, dan untuk pertama kalinya, anak-anak itu dapat belahar dan mengikuti pelajaran dengan perut kenyang. Di sudut lain masih di bumi Indonesia, seorang guru honorer di daerah Lombok Barat menghela napas panjang. Ia menerima insentif Rp400.000 per bulan, angka yang sama sekali tidak pernah berubah selama dua dekade…
-
Suramnya Masa Depan Pendidikan di Indonesia: Dampak dari efisiensi Anggaran Negara (Belajar dari Jepang Pasca-Bom Atom)
Pendidikan adalah kunci utama dalam pembangunan suatu bangsa. Kualitas pendidikan yang baik mampu mencetak generasi yang kompeten, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Namun, di Indonesia, masa depan pendidikan kini menghadapi tantangan besar, terutama dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran negara yang turut mengurangi alokasi dana untuk sektor pendidikan. Kebijakan ini berdampak buruk pada kualitas pendidikan dan akses yang tidak merata, terutama di daerah-daerah terpencil. Namun, untuk memahami lebih dalam mengenai dampak kebijakan ini, kita bisa melihat sebuah contoh yang sangat kontras namun memberikan pelajaran berharga: Jepang setelah peristiwa Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki. Pada saat itu, Jepang mengalami kehancuran total. Infrastruktur hancur, ekonomi runtuh, dan ribuan jiwa melayang. Namun,…














